Politik Pemerintahan

Gubernur, Presiden, dan Mobilitas Politik Vertikal

Ainur Rohim Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) masih 3 tahun lagi. Sejumlah lembaga survei kredibel dan berintegritas telah mengeluarkan hasil surveinya. Kontennya tentang siapa yang berpeluang masuk bursa Pilpres 2024. Tak hanya itu, tingkat keterpilihan (elektabilitas) para tokoh tersebut telah dicek ke publik.

Salah satu temuan survei paling menarik adalah masuknya beberapa nama gubernur sebagai bakal kandidat presiden dan atau wapres di Pilpres 2024. Mereka layak ditempatkan dalam barisan tokoh masa depan yang bakal memimpin bangsa ini. Tentu selain sejumlah tokoh nasional, baik yang sekarang duduk di pemerintahan maupun ketua umum partai politik (Parpol).

Nama-nama gubernur yang masuk radar lembaga survei sebagai bakal kandidat presiden dan wapres, di antaranya empat gubernur di Pulau Jawa: Gubernur DKI Jakarta M Anis Baswedan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Keempat gubernur tersebut memimpin provinsi dengan tingkat populasi dan demografi politik tinggi. Keempat provinsi di Pulau Jawa ini seringkali diposisikan sebagai teritori politik kunci dalam kontestasi politik nasional: Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pilpres.

Lebih dari 132 juta penduduk Indonesia bermukim di empat provinsi tersebut. Data terakhir menunjukkan, jumlah penduduk Jabar mencapai 49 juta, Jatim dengan 39,74 juta jiwa, Jateng dengan 34,55 juta jiwa, dan DKI Jakarta dengan 10,5 juta jiwa.

Data Pilpres 2019 lalu memperlihatkan, jumlah pemilih di empat provinsi hampir mencapai 100 juta pemilih. Jumlah pemilih di Jabar sebesar 33,20 juta pemilih, Jatim dengan 30,90 juta pemilih, Jateng dengan 27,80 juta pemilih, dan DKI Jakarta dengan 7,70 juta pemilih.

Yang menarik, keempat gubernur di Pulau Jawa tersebut berusia relatif muda dibanding sebagian besar gubernur di provinsi lain di Indonesia. Nama mereka juga familier dengan dunia media massa dan media sosial (Medsos).

Popularitas mereka tak kalah dibanding dengan tokoh-tokoh partai berusia muda di level nasional. Mereka tampak sebaya, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan lainnya.

Sekali pun Pilpres 2024 masih lama, lembaga survei telah mengecek pilihan publik atas tokoh yang layak dipilih dalam kontestasi politik tersebut. Hasil survei Lembaga Populi Center yang dirilis pada 9 November 2020 menunjukkan, harapan responden tentang sosok calon presiden 2024 adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi tokoh yang paling diharapkan maju sebagai capres 2024, dengan tingkat elektabilitas 18,3 persen.

Lantas di posisi kedua terdapat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dengan elektabilitas 9,9 persen. Menyusul di posisi ketiga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan elektabilitas 9,5 persen. Kemudian Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan 5,8 persen. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan 2,2 persen.

Jauh sebelum itu, pada bulan Mei 2020, satu lembaga survei merilis tentang tokoh yang layak masuk bursa capres di Pilpres 2024 dan tingkat elektabilitasnya. Dari empat gubernur di Pulau Jawa, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 11,80 persen, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan dengan 10,40 persen, Gubernur Jabar Ridwan Kamil dengan 7,70 persen, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dengan 4,30 persen.

Tempo Pilpres 2024 masih tiga tahun lalu. Itu waktu cukup lama. Berbagai kemungkinan dinamika politik bisa saja terjadi menyangkut figur dan tokoh yang berpeluang masuk bursa pilpres.

Bisa saja justru para ketua umum parpol yang memiliki kans politik masuk. Atau anak emas tokoh politik kuat di partai-partai besar yang paling berpeluang besar masuk dan bertarung. Tak hanya faktor akses politik untuk merebut tiket yang menjadi ukuran. Kalau hal ini lebih terkait dengan panggung politik elite di level atas.

Yang jauh lebih penting dan strategis adalah panggung politik bawah, suara rakyat, wong cilik di akar rumput. Pilpres 2024 adalah kontestasi pemilihan presiden kelima secara langsung di Republik ini. Dinamika dan trend politik suara kawulo alit dan massa bawah dapat dicek dengan pendekatan scientific yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, logis, dan akuntabel.

Survei menjadi instrumen penting untuk mengecek sound aspirasi dan jerit nurani arus bawah di alam demokrasi elektoral. Sekali pun aspirasi otonom yang otentik dari massa bawah ini rawan dimanipulasi dengan money politics, mobilisasi politik yang dibarengi dengan intimidasi politik, dan berbagai policy yang memasung pelaksanaan pesta demokrasi yang berintegritas, akuntabel, dan demokratis.

Fenomena gubernur menjadi presiden bukan fakta politik baru di ranah politik global. Mobilitas politik bersifat vertikal ini realitas yang seringkali terjadi di banyak negara, terutama Amerika Serikat (AS). Bill Clinton (Partai Demokrat) dan George Walker Bush (Partai Republik) adalah dua contoh riil yang masih sangat kuat di ingatan publik tentang seorang berlatar gubernur kemudian terpilih dalam pemilu, lantas naik jabatan di kursi presiden.

William Jefferson Clinton (Bill Clinton) yang lahir 19 Agustus 1946 adalah seorang pengacara dan politikus Amerika dan presiden ke-42, menjabat sejak 1993 hingga 2001. Sebelum menjadi presiden, dia menjabat sebagai Gubernur Arkansas (1979–1981 dan 1983–1992) dan sebagai Jaksa Agung Arkansas (1977–1979). Clinton dikenal sebagai seorang Demokrat Baru. Banyak kebijakannya mencerminkan filosofi politik ” Jalan Ketiga ” yang berhaluan tengah.

Pengganti Clinton sebagai presiden AS adalah George Walker Bush, yang lahir di New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, 6 Juli 1946. Sebagai presiden AS ke-43, Bush Junior dilantik pada 20 Januari 2001 setelah terpilih lewat pemilu presiden tahun 2000 dan terpilih kembali pada 2004. Jabatan kepresidenan kedua kalinya berakhir pada 20 Januari 2009. Sebelumnya, ia adalah Gubernur Texas ke-46 (1995-2000). Jabatan ini ditinggalkan sesaat setelah dirinya terpilih sebagai presiden. Bush Junior digantikan Barack Obama dari Partai Demokrat.

Bush yang menggambarkan dirinya sebagai “presiden perang”, terpilih kembali pada 2004 setelah kampanye pemilihan yang sengit dan panas. Dalam kampanye ini, keputusannya untuk mengadakan perang melawan terorisme dan perang Irak dijadikan isu sentral.

Banyak presiden dari negeri Paman Sam yang berlatar belakang gubernur sebelum duduk di kursi orang nomor satu di AS. Ronald Reagen yang lama sebagai bintang film Koboi di Holywood, lahir di Tampico, Illinois, pada 6 Februari 1911 pernah menjabat sebagai Gubernur California. Reagen menjabat Presiden AS dari 1981-1989 dari Partai Republik.

Amerika Serikat di era Reagen intens mengkampanyekan globalisasi dan bersama Inggris di bawah pimpinan PM Margaret Teacher. Saat memerintah AS, Reagan menerapkan inisiatif menyapu politik dan ekonomi baru. Ia dijuluki Reaganomik. Sebab, kebijakan ekonominya berfokus pada penyegaran stagnasi kondisi ekonomi, inflasi, dan pengangguran.

Di eranya dikenal pula
Doktrin Reagan: AS mengambil bagian secara aktif dalam usaha kaum garis keras melawan pengaruh komunis di Amerika Latin. Reagen menjabat gubernur California periode 1967–1975.

“Satu-satunya yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.” Kutipan terkenal itu meluncur dari Franklin Delano Roosevelt, Presiden ke-32 Amerika Serikat (AS). Roosevelt sebelumnya pernah menjadi Gubernur New York. Roosevelt satu-satunya presiden AS yang terpilih empat kali, dalam masa jabatan dari tahun 1933 hingga 1945.
Lalu, Thomas Jefferson (Presiden ke-3 AS) sebelumnya pernah menjabat sebagai Gubernur Virginia. Jefferson juga pernah menjabat sebagai Menlu di era Presiden George Washington pada 1789.

Setelah menjabat sebagai Gubernur New Jersey pada 1910, Thomas Woodrow Wilson terpilih sebagai Presiden ke-28 Amerika Serikat yang memerintah pada 1913–1921. Doktor ilmu tata negara dan sejarah ini sempat mengajar di beberapa universitas. Dia terpilih sebagai orang pertama AS dari Partai Demokrat.

Tak hanya dari AS, pengalaman empiris politik negara lainnya juga banyak diwarnai fenomena mobolitas politik vertikal seorang gubernur yang lantas terpilih sebagai presiden. Di antaranya, Vicente Fox, Presiden Meksiko ke-55 (2000-2006) yang sebelumnya menjabat Gubernur Guanajuato.

Kemudian, Enrique Peña Nieto, Presiden Meksiko ke-57 sejak 2012 yang sebelumnya Gubernur State of Mexico. Carlos Menem, Presiden Argentina ke-47 (1989-1999) sebelumnya adalah Gubernur La Rioja. Néstor Kirchner, Presiden Argentina ke-51 (2003-2007) sebelumnya adalah Gubernur Santa Cruz, dan Fernando Collor de Mello, Presiden Brazil ke-32 (1990-1992) pernah menjabat Gubernur Alagoas.

Yang tak jauh dari posisi negara kita: Filipina, dipimpin Rodrigo Duterte. Presiden yang dikenal keras dan tegas kepada pelaku kriminal jalanan, khususnya pelaku kriminal narkoba ini, sebelumnya lama menjabat sebagai wali kota yang paling lama di Filipina, yakni sebagai wali kota Kota Davao selama 7 masa jabatan (selama 22 tahun). Politikus yang berjuluk Digong ini adalah seorang pemain politik dan pengacara Filipina keturunan Visayan.

Ayahnya bernama Vicente G. Duterte, pernah menjabat Gubernur (pada waktu itu belum dibagi) Davao dan Soledad Ro. Sepupu Rodrigo, Ronald, menjabat sebagai wali kota Kota Cebu dari 1983 sampai 1986. Ayah Ronald, Ramon Duterte, juga memegang jabatan tersebut dari 1957 sampai 1959. Klan Duterte diposisikan sebagai keluarga politik dari Klan Durano dan Almendras. [air]



Apa Reaksi Anda?

Komentar