Politik Pemerintahan

Sambut Hari Santri,

GP Ansor Ponorogo Gelar Kirab 100 Ribu Doa Pager Bumi KH Hasyim Asy’ari

Peserta kirab 100 Ribu Doa Pager Bumi KH. Hasyim Asy'ari. (Foto/GP Ansor Ponorogo)

Ponorogo (beritajatim.com) –  Menyambut hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ponorogo mengadakan Kirab 100 Ribu Doa Pager Bumi KH Hasyim Asy’ari.

Kirab Doa pager bumi atau juga disebut Aji-aji Limo dimulai pada tanggal 13 hingga puncak peringatan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020. Kegiatan tersebut digelar melintasi 21 kecamatan, secara estafet mulai dari Kecamatan Pudak hingga berakhir di Kecamatan Ponorogo.

“Acara Kirab 100 Ribu Doa Pager Bumi KH Hasyim Asy’ari ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan hari santri yang diadakan oleh GP Ansor Ponorogo,” kata Ketua GP Ansor Ponorogo Syamsul Ma’arif, Sabtu (17/10/2020).

Menggelar acara di situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, kata Syamsul  tentunya membutuhkan pemikirian sekaligus perencanaan yang matang. Supaya tidak mengurangi nilai kemanfaatan dan kebijakam yang diteladankan oleh santri kepada komponen bangsa ini.

Untuk itu kegiatan ini semuanya sangat patuh pada protokol kesehatan. Terlebih kepada Banser yang terus sigap menjaga para peserta kirab. Baik dalam mengingatkan kepatuhan protokol dan turut mengawal dan mengamankan kirab bersama TNI/Polri.

“Karena diadakan saat pandemi, kami lakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, ada banser yang mengingatkan peserta jika lalai pada protokol kesehatan,” katanya.

Kegiatan yang dilakukan oleh GP Ansor Ponorogo ini juga sejalan dengan tema hari santri tahun ini, Santri Sehat, Indonesia Kuat. Kegiatan Kirab 100 Ribu Doa Pager Bumi KH. Hasyim Asy’ari bukanlah selebrasi semata. Namun, jauh penting dari itu, kegiatan ini merupakan olah spiritual.

“Pemerintah secara lahiriah menangani Covid-19 dengan aturannya, kita secara batiniah menangani dengan gerak spiritual,” katanya.

Di setiap kecamatan dilakukan prosesi penyerahan pataka dan pusaka leluhur Tegalsari yang juga ikut dikirabkan dala kegiatan itu. Syamsul menyebut itu sebagai bentuk pelestarian terhadap aset wisata dan budaya lokal. Bisa dimaknai jika generasi muda harus menghormati dan mengilhami perjuangan leluhur dulu.

“Perjuangan pendahulu NU harus kita teruskan dengan cara berjejaring, rapi, terpimpin dan terstruktur,” pungkasnya. (end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar