Politik Pemerintahan

GP Ansor Jember Sarankan Karantina Berbasis Desa

Jember (beritajatim.com) – Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan kepada pemerintah daerah setempat agar membuka karantina berbasis desa bagi warga yang pulang kampung dari zona merah. Karantina berbasis desa lebih partisipatif daripada karantina terpusat di Stadion Jember Sport Garden.

“Saya tidak tahu apa yang mendasari pemikiran bupati ingin melakukan karantina terpusat. Menurut saya, seharusnya dipikirkan dulu efeknya. Kalau ingin karantina dilakukan baik, seharusnya pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah desa,” kata Ketua GP Ansor Jember Ayub Junaidi.

Menteri Desa Abdul Halim Iskandar sudah mengeluarkan surat edaran untuk kepala-kepala desa. “Sudah diperintahkan kepada seluruh pemerintah desa untuk membentuk Satuan Tugas Covid-19 yang harus dipimpin kepala desa. Satgas tersebut bisa dibiayai dengan dana desa, termasuk program-programnya,” kata Ayub.

“Alangkah baiknya, kalau itu dilakukan oleh pemerintah daerah dan pemerintah desa dengan mengaktifkan satgas Covid-19 di tingkat desa, tak perlu ada pusat karantina. Bagaimana di masing-masing desa ada karantina mandiri yang dibiayai dengan dana desa. Contoh di desa pasti ada gedung sekolah yang kosong karena libur. Untuk mengantisipasi pemudik di desa tersebut, ya dikarantina di situ dengan melibatkan satgas Covid-19 desa dan pemerintah kabupaten,” kata Ayub.

Karantina desa ini bisa didampingi petugas puskesmas dan puskesmas pembantu. “Tidak usah semua harus terpusat di JSG. Seharusnya semua kebijakan sebelum dikeluarkan, betul-betul terpikir dan terkonsep secara benar. Kegiatan dengan melibatkan masyarakat lebih penting daripada dikerjakan sendiri, karena sesuatu yang besar harus diselesaikan dengan gotong royong seluruh masyarakat,” kata Ayub.

Beritajatim.com pernah meminta konfirmasi dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Gatot Triyono mengenai alasan karantina terpusat di JSG. Namun dia menolak menjawab. “Itu wewenang bupati,” katanya.

Sementara itu tidak semua warga abai terhadap protokol Covid-19. Fitria Noormajdina, salah satu warga di Kecamatan Kaliwates, memilih tinggal di rumah kontrakan depan rumahnya selama 14 hari setelah datang dari Bogor. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Bogor ini pulang dengan pesawat dan turun di Kabupaten Banyuwangi, akhir Maret lalu. Dari Banyuwangi, ia menuju Jember dengan kendaraan pribadi.

“Tiba di rumah, saya langsung memeriksakan diri di Puskesmas Mangli bersama adik saya. Orang tua kemudian mengontrak rumah di depan rumah kami untuk ditempati selama 14 hari,” kata Noormajdina, Kamis (23/4/2020). Karantina mandiri berjalan pada 1-14 April 2020 dan ia dalam kondisi sehat hingga karantina berakhir. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar