Politik Pemerintahan

Golkar Jatim Kedatangan Dua Tamu Istimewa Jelang Akhir Ramadan

KH Marzuki Mustamar

Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang akhir Ramadan, DPD Partai Golkar Jatim kedatangan dua tamu penting dan istimewa. Siapa mereka?

Mereka berdua adalah KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim dan KH Dr Saat Ibrahim, Ketua PW Muhammadiyah Jatim.

Dua tokoh ormas besar di Jawa Timur ini berkesempatan untuk memberikan tausiah Ramadan untuk seluruh warga Jawa Timur yang ditayangkan di Golkar Jatim TV.

KH Marzuki Mustamar menekankan bahwa sebagai orang islam harus berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah. Jika terjadi kesimpangsiuran pendapat, maka kita diminta untuk mencari para ulama yang memiliki keahlian dalam bidang Alquran dan Sunnah.

“Sebagai orang Islam mari berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah. Andai ada kesimpangsiuran pendapat, mari kita kembalikan, kita percayakan kepada para ulama yang memang memiliki keahlian, kedalaman ilmu, di bidang Alquran dan Sunnah,” kata Kiai Marzuki yang juga Pengasuh Ponpes Sabillul Rosyad, Gasek, Malang ini.

Dia juga berpesan panjang agar seluruh masyarakat Indonesia selain menjalankan ajaran agama Islam, juga berkomitmen menjaga persatuan dan kerukunan serta perdamaian terhadap sesama. Karena saat ini mudah sekali ditemui oknum-oknum yang menyebarkan kebencian menuduh sesat, bahkan seringkali mengkafirkan saudaranya sendiri yang beragama Islam.

Dr M Saad Ibrahim

“Jika negara kacau, perang saudara maka akan berimbas kepada agama itu sendiri. Masjid tidak bisa jamaah, lembaga pendidikan tidak bisa berjalan karena negara tidak aman. Mari seimbangkan menjaga agama dan menjaga negara,” ujarnya.

KH Saad Ibrahim menekankan hikmah berpuasa di bulan Ramadan satu bulan penuh yang hikmahnya meninggikan posisi dimensi rohani manusia di atas dimensi jasmani manusia.

“Sebenarnya hakikat manusia menjadi manusia itu tidak lebih dan tidak kurang karena pada dirinya ditiupkan ruh yang berasal dari Allah SWT. Maka manusia memperoleh kemuliaannya dan dimuliakan oleh Allah, karena manusia diberikan ruh dari Allah SWT,” tuturnya.

Dalam perjalanan kehidupan manusia dua dimensi (jasmani dan rohani) selalu saling berebut posisi. Syaitan mempengaruhi manusia untuk menempatkan dimensi jasmani di atas dimensi ruhani. Jika manusia benar-benar mengikuti ajakan syaitan, maka sesungguhnya nilai manusia tidak lebih dari sekadar tanah.

“Syaitan menghembuskan kecenderungan yang bersifat hawa nafsu sehingga ruh terkungkung sepenuhnya pada dimensi jasmani. Sehingga, perjalanan hidup manusia yang seharusnya menuju Allah, malah akan menuju neraka Allah SWT,” tukasnya.

“Untuk itulah puasa adalah jalan untuk memanage rohani manusia untuk kembali kepada Allah. Jika manusia berhasil memanage rohaninya, maka akan berimbas kepada hubungan kepada Allah dan hubungan kepada manusia,” pungkasnya. (tok/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar