Politik Pemerintahan

Golkar Gresik Solid Menangkan Paslon NIAT, Dukung QA Gus Atho’ Mundur dari PCNU

Gresik (beritajatim.com) – Proses tahapan Pilkada Gresik sudah berjalan. Sejumlah parpol maupun ormas semakin memanasi mesin politiknya. Salah satu parpol yang turut memastikan dukungannya adalah Partai Golkar.

Melalui Ketua DPD Partai Golkar Ahmad Nurhamim, partai berlogo pohon beringin itu memastikan kadernya solid mendukung bakal pasangan calon (Paslon) Cabup Fandi Akhmad Yani dan Cawabup Aminatun Habibah (NIAT). “Sampai saat ini Partai Golkar sangat solid dalam mendukung paslon NIAT di pilkada Gresik 2020,” ujarnya, Jumat (11/09/2020).

Masih menurut Ahmad Nurhamim, masih terkait dengan itu. Pihaknya sudah membentuk tim pemenangan internal partai yang diputuskan dalam rapat plano DPD Partai Golkar Gresik, dengan Ketua Tim Khamim, Sekretaris Hendik Suntoro dan Bendahara Erry Sucahyo. “Kami merespon cepat dengan membentuk tim pemenangan di internal Golkar. Jangan ragukan soliditas kami,” tegasnya.

Tim pemenangan lanjut dia, berkekuatan 80 personel. Terdiri dari pengurus DPD Partai Golkar dan para ketua pimpinan kecamatan. “Target tim pemenangan yakni mengamankan suara partai pada Pileg 2019 sebesar 100.000 pemilih. Jadi kami patuh dengan instruksi pusat sesuai rekom yang diberikan Gus Yani dan Bu Min,” ungkap Ahmad Nurhamim.

Sementara itu, secara terpisah Wakil sekretaris PCNU Gresik sekaligus Wakil Ketua MWC NU Ujung Pangkah KH Nafisul Atho’ atau Gus Atho’ mengajukan surat non aktif dari kepengurusan PCNU Gresik setelah turut mendukung paslon M.Qosim-Asluchul Alief (QA).

Surat persetujuan ditandatangani Rais Syuriah KH Mahfudz Ma’shum, Khatib Drs. KH. Syuaib Zunaidi, Ketua Tanfidiyah KH Moh Chusnan Ali serta Sekretaris Tanfidiyah, Anharul Mahfudz.

Gus Atho’ panggilan akrabnya menerangkan, berdasarkan maklumat surat intruksi PWNU Jatim nomor 752/PW/A-II/L/IX/2020 yang dikeluarkan pada tanggal 7 September 2020 tentang rangkaian Pilkada serentak 2020.

“Secara pribadi tidak ingin dalam proses Pilkada nanti ada embel-embel NU yang digunakan. Ibarat jubah, kalau sudah mengikuti proses Pilkada atau mendukung salah satu paslon seyogyanya tidak menyangkutpautkan organisasi NU,” pungkasnya. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar