Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Goa Jepang Paciran Lamongan, Saksi Bisu Perjuangan Bangsa Tempo Dulu

Lamongan (beritajatim.com) – Dalam sejarah Indonesia, tercatat bahwa Jepang pernah menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun. Selama itu pula Jepang menpertahankan kekuasaannya melalui sejumlah pertempuran panjang melawan tentara sekutu.

Saat ini, meski masa penjajahan sudah terlewati, namun rerentetan peristiwa penting yang terjadi pada tempo dulu itu dapat terus digali oleh peneliti dan sejarawan melalui sejumlah saksi bisu yang masih ada hingga hari ini.

Salah satu dari saksi bisu tersebut adalah bekas bungker yang biasa dikenal dengan sebutan Lobang atau Goa Jepang yang bisa ditemui di berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali yang berlokasi di Dusun Semerek Desa Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan ini.

Sebagai informasi, dinamakan Goa Jepang karena dibangun pada saat Jepang sedang menduduki Indonesia, pengerjaan galiannya dengan sistem Romusha, yakni warga pribumi yang ditawan atau dipaksa kerja oleh Jepang. Selain itu, istilah Goa Jepang juga biasa digunakan untuk Goa yang dulunya dibuat Belanda lalu diambil alih oleh Jepang, atau bahkan Goa Alami.

Meski keberadaan Goa Jepang di Dusun Semerek ini berbentuk mungil dan tak sepopuler Goa Jepang lainnya, seperti Goa Jepang yang ada di Majalengka Jawa Barat, Lubang Jepang di Bukittinggi Sumatera Barat, serta Goa Jepang di Biak Papua, namun nilai historis perjuangan dan misteri yang melekat di Goa ini juga menarik untuk dikaji lebih dalam.

Ahmad Zaki bersama tim saat meninjau lokasi Goa Jepang di Dusun Semerek Desa Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan

Pada kesempatan tersebut, Ahmad Zaki Yamani selaku sejarawan dari Komunitas Roode Brug Surabaia menyampaikan, bahwa diperkirakan Goa Jepang ini dibangun atas perintah tentara Jepang, sekitar tahun 1942-1945. Menurutnya, pada tahun tersebut di wilayah pantai utara Jawa ini memang banyak dibangun benteng-benteng pertahanan, baik itu yang berfungsi sebagai tempat penembakan meriam, perlindungan, maupun penyimpanan logistik, dan lain-lain.

“Setelah pemberontakan PETA di Blitar tahun 1944, sebagian dari mereka banyak yang sudah dilucuti senjatanya, dan mereka ditempatkan di pantai utara Jawa. Kemungkinannya termasuk juga di sini, lalu membangun jinci-jinci yakni benteng pertahanan yang digunakan membendung kedatangan dan pendaratan sekutu atau Belanda dari arah pantai,” ujar Zaki, Sabtu (4/9/2021).

Selain itu, Zaki juga meyakini, bahwa Goa ini digunakan sebagai pertahanan yang dibangun melalui Romusha. Hal itu dibuktikan dari adanya garis guratan yang ada di dinding Goa, yang artinya digali dengan menggunakan alat gancu. Guratan itu, lanjut Zaki, adalah salah satu ciri atau karakter dari Goa Jepang.

“Menurut cerita dari Mbah Jauhari yang merupakan saksi dan warga asli desa sini yang sudah berumur 80 tahun lebih, beliau mengatakan memang Goa ini digali memakai tenaga Romusha. Katanya juga ada lagi beberapa Goa Jepang serupa di wilayah sini, namun akibat adanya Galian C, sehingga banyak yang sudah tidak berbentuk,” terangnya.

Sementara itu, jika dilihat dari bentuk dan lokasinya, Zaki menyebutkan, bahwa Goa Jepang ini ukurannya tidak seberapa besar. Namun jika dilihat dari kontur topografinya, wilayah sekitar Goa tersebut terdiri dari perbukitan dan letaknya cukup tinggi. Zaki menilai, Goa ini memiliki beberapa fungsi strategis secara militer.

“Saya kira, Goa ini pertama berfungsi untuk pengintaian, kedua untuk pemantauan wilayah pantai utara sekitar Paciran, dan ketiga sebagai pertahanan. Saya menduga di atas sini dulunya ada baterai artileri, walaupun enggak banyak meriamnya tapi jangkauannya bisa mencapai 8 kilometer ke pantai. Makanya tadi saya curiga, kok ada batu bertumpuk-tumpuk seperti parit, mungkin itu parapet untuk perlindungan, dan di tengahnya biasanya ada meriam,” paparnya.

Tak cukup itu, dari analisa yang dilakukan oleh Zaki, ia memperkirakan bahwa arteleri itu bisa mengarah ke mana saja, karena tempatnya yang cukup tinggi. “Saat mereka diserang pun mereka bisa langsung sembunyi masuk ke sini (Goa), sehingga selamat dari tembakan. Ini pegunungan kapur dan karst-nya agak keras, karena lobang Goa tidak seberapa dalam, apabila ditembak dari atas enggak masalah, penyanggah lubangnya juga kuat, enggak gampang runtuh,” sambungnya.

Lebih jauh, Goa Jepang yang satu ini menurut Zaki juga memiliki keunikan di model lorong pintunya, yakni terdapat belokan dan tidak langsung mengarah ke pintu Goa. Sehingga saat ada musuh yang hendak masuk menyerang, ia tidak akan langsung berhadapan, ada jeda untuk membela diri saat musuh mencoba masuk.

“Tepat di atas Goa ini ada beberapa makam, jumlahnya tidak banyak. Namun kami belum mengetahui secara pasti apakah makam ini lebih dulu ada daripada Goa, atau Goa lebih dulu ada sebelum makam. Bisa jadi makam ini digunakan untuk kamuflase, jadi saat dicari oleh Belanda, tempat ini dikira hanya makam,” imbuhnya.

Terakhir, Zaki mengharapkan, bahwa keberadaan dari Goa ini bisa terus dijaga dan dilestarikan, sehingga bisa digunakan sebagai sarana edukasi kesejarahan. “Harusnya wajib dilestarikan, karena tenaga yang membangun ini bangsa kita sendiri, pribumi, Romusha. Nantinya dibersihkan, ya kan bisa dijadikan sebagai wisata kunjungan yang sifatnya lokal. Tidak usah ditarif, untuk edukasi sejarah,” pungkasnya.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar