Politik Pemerintahan

Gali Lubang Tutup Lubang, Hotel GDK Bojonegoro Akhirnya Bangkrut

Inspektur Inspektorat Kabupaten Bojonegoro Teguh Prihandono

Bojonegoro (beritajatim.com) – Hasil audit yang dilakukan tim auditor Inspektorat Kabupaten Bojonegoro terhadap pengelolaan keuangan Hotel Griya Dharma Kusuma (GDK) sudah selesai. Dari hasil audit tersebut, hotel GDK bangkrut selama empat tahun berturut-turut sejak 2017 hingga 2020.

Inspektur Inspektorat Kabupaten Bojonegoro Teguh Prihandono mengatakan, hasil audit tujuan tertentu dari pendapatan dan belanja Hotel GDK tahun 2020 yang dilakukan oleh Inspektorat ada beberapa temuan sehingga menyebabkan manajemen mengalami kerugian.

Nilai keuangan hotel GDK tahun 2020 untuk pendapatan sebesar kurang lebih Rp772 juta, sedangkan untuk belanja operasional sebesar sekitar Rp890 juta. Selain itu, auditor juga menemukan adanya pinjaman cash senilai kurang lebih Rp21 juta.

“Pinjaman cash itu di antaranya untuk biaya operasional, seperti bayar listrik dan internet senilai Rp21 juta itu,” ujar Teguh Prihandono, Rabu (17/2/2021).

Selain itu, juga ada temuan penjualan aset yang dilakukan oleh mantan Direktur PT GDK Puri Wijaya berupa mobil Kijang Innova tahun 2015, Kijang LGX tahun 2001, dan 25 unit lemari es minibar. Dari hasil penjualan aset hotel tersebut total mendapatkan uang sebesar Rp253 juta.

“Hasil penjualan aset itu termasuk digunakan untuk biaya operasional dan sebagian besar digunakan untuk membayar utang. Karena mobil yang dijual itu sebelumnya juga pernah digadaikan,” jelasnya.

Teguh Prihandono menambahkan, dari devisit yang terjadi di hotel GDK tersebut diperoleh karena digunakan untuk biaya operasional. Namun, banyak bukti yang tidak bisa diperoleh dengan kuat. Apalagi, saat ini para pegawai di Hotel GDK sudah bubar dan auditor tidak memperoleh keterangan dari mantan direktur.

“Tim audit tidak bisa konfirmasi mantan direktur GDK, sudah mencoba dihubungi tetapi juga tidak ada tanggapan,” jelasnya.

Selain itu, beberapa temuan hingga saat ini GDK juga masih menyisakan utang yang belum terbayarkan terhitung mulai tahun 2019-2020, senilai kurang lebih Rp1,4 miliar.

Utang yang masih nunggak, macam utang pajak hotel senilai Rp227 juta, utang gaji karyawan sebesar Rp365 juta, utang tagihan BPJS sebesar Rp56 juta, dan utang kantor akuntan publik senilai Rp91 juta untuk biaya audit laporan keuangan tahun 2017 sampai dengan tahun 2020, serta servise charge dari 2017-2020 senilai Rp230 juta.

“Pemeriksaan audit yang dilakukan inspektorat ini sekarang sudah selesai, dan beberapa rekomendasi kepada para pemegang saham harus dirapatkan, termasuk di dalamnya pengangkatan Plt Direktur supaya bisa beroperasi lagi,” pungkasnya.

Sementara terpisah, Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro Sally Atyasasmi mengungkapkan, kerugian yang dialami hotel GDK tersebut dinilai sangat rumit. Sejauh ini pengelolaan GDK marketnya umum, sehingga marketnya tarung bebas dengan hotel swasta lain.

“Selama ini memang performa manajemen hotel GDK banyak yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Dia memiliki catatan, bahwa ke depan rencana bisnis hotel GDK ini harus lebih spesifik, atau memiliki market khusus dan memperbaiki manajemen yang memang profesional. “Salah satunya termasuk menindaklanjuti penawaran kerjasama dengan Pertamina Asset 4 itu, sehingga jelas marketnya,” pungkasnya. [lus/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar