Politik Pemerintahan

Fraksi Golkar Sodorkan Solusi Atasi Jalan Berlubang di Jember

Jember (beritajatim.com) – Fraksi Partai Golkar di DPRD Jember, Jawa Timur, menyodorkan solusi untuk mengatasi jalan berlubang di kota tersebut. Jalan berlubang saat ini menjadi isu publik di Jember.

“Dalam APBD, ada anggaran normalisasi saluran air. Ini tidak pernah disentuh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga. Musuhnya aspal adalah air. Selagi tidak ada normalisasi saluran, persoalan jalan berlubang akan tetap berlanjut,” kata Rachmad Fachkurniawan, politisi Fraksi Golkar, dalam rapat dengar pendapat di DPRD Jember, Rabu (6/3/2019).

Selain itu, Fachkurniawan mengingatkan, data panjang jalan rusak seharusnya dimiliki oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Jember sebagai acuan untuk perbaikan. Hal ini dikarenakan selama ini, setiap kali ada pembahasan APBD, selalu ada paparan panjang jalan yang rusak, baik berat, sedang, maupun ringan.

Jika tidak segera diperbaiki dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, lanjut Fachkurniawan, masyarakat bisa menggugat sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Penyelenggara wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Dalam hal ini belum dilakukan perbaikan jalan yang rusak, maka wajib hukumnya penyelenggara jalan memberikan rambu-rambu peringatan,” katanya.

Rambu-rambu peringatan ini, menurut Fachkurniawan, tidak ditemui di lokasi-lokasi jalan yang rusak. “Sehingga tidak salah jika masyarakat memberikan rambu jalan dengan menanam pohon pisang di tengah jalan,” katanya.

Ketua Komisi C Siswono ingin agar Dinas Perhubungan, kepolisian, dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga menjalin hubungan sinergis dalam memperbaiki jalan berlubang. “Butuh kecerdasan, ketangkasan, (dalam berkomunikasi) dengan unit pelaksana teknis di kecamatan. Jangan hanya berkilah ngeles di (ketiadaan) data. Ini negara, ini pemerintah,” katanya.

Dalam rapat itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Jember Yessiana Arrifah mengaku tidak menemukan data jalan rusak, saat hendak melakukan perbaikan. “Data kerusakan jalan di mana saja itu tidak ada. Jadi bertahun-tahun memang sifatnya hanya instruksi top down, jalan ini mau diperbaiki. Padahal seharusnya tidak boleh membeda-bedakan. Di setiap ruas jalan harus ada buku catatan pemeliharaan. Tidak ada itu (buku),” katanya. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar