Politik Pemerintahan

Fenomena Pengamen Lampu Merah Marak Lagi di Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Dalam beberapa bulan terakhir, di Kota Surabaya kembali nampak fenomena para pengamen di lampu merah atau lampu pengatur lalu lintas. Memang tidak terlihat di jalan-jalan protokol Kota Pahlawan, namun para pemusik jalanan ini bisa dengan mudah ditemui di sudut-sudut kota.

Di perempatan Jalan Adityawarman misalnya. Selasa (28/7/2020), beritajatim.com menemukan adanya sekelompok pemusik jalanan yang mengamen di salah satu lampu merah di sana. Bermodalkan gitar dan gendang buatan sendiri serta kaleng rokok, mereka berkeliling berharap recehan dari pengendara yang terjebak lampu pengatur lalu lintas. Baik pengendara roda 2 maupun 4.

Pemandangan serupa pun bisa dengan mudah ditemui di berbagai tempat tanpa kenal waktu. Alat musik mereka pun beragam. Mulai dari yang ala kadarnya, hingga yang membawa satu set lengkap angklung. Bahkan, ada pula yang bermodalkan gitar listrik dengan pengeras suara ala kadarnya.

Pemandangan ini pun seolah menjadi hal baru bagi para pengguna jalan. Pasalnya, sudah bertahun-tahun jajaran Pemerintah Kota Surabaya rajin menertibkan para pengamen ini. Hingga sekitar akhir 2019, hampir mustahil bisa menemukan pengemis atau pemusik jalanan di lampu-lampu merah Kota Pahlawan.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Chrisjanto tidak memungkiri jika saat ini memang fenomena itu kembali marak. “Mereka ini satu ditertibkan muncul lagi yang lainnya. Banyak sekali itu,” katanya.

Meski demikian, jajaran pemerintahan Wali Kota Risma dipastikan tidak tinggal diam. Eddy mengaku jika pihaknya terus melakukan penertiban. Meski, tidak bisa dipungkiri adanya pandemi menjadi kendala tersendiri.

“Kami terus menertibkan itu (pengamen). Setiap hari ada selalu ada yang kita bawa itu. Hanya saja, pandemi ini kan kami juga harus ikut terjun membawa orang-orang yang harus karantina mandiri dan juga sebagainya. Tapi, di tengah itu semua, kami jamin tetap melakukan penertiban kepada mereka (pengamen) demi kenyamanan warga Kota Surabaya,” tegas Eddy.

Sanksi yang bisa dikenakan kepada para pengamen pun menurut Eddy menjadi satu masalah lain. “Sanksinya hanya tipiring. Kami pun hanya bisa melakukan penahanan barang bukti selama 1 bulan,” urainya.

Walau begitu, Eddy mengaku memiliki siasat tersendiri agar para pengamen jalanan jera. Terlebih lagi, bagi mereka yang sudah berulang kali tertangkap melakukan aksi.

“Kami sering minta kepada hakim itu agar denda yang dibebankan merupakan denda maksimal khusus bagi mereka yang sudah berulang kali. Ini tentunya agar mereka jera,” pungkas Eddy.(ifw/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar