Politik Pemerintahan

Tampil Bareng Fadli Zon dan Nizar Zahro

Fahri Hamzah: Jihad saat Ini adalah Politik

Fahri Hamzah menyampaikan materi Ngaji Komunikasi Politik dalam program Pekan Ngaji 4 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Sabtu (19/1/2019).

Pamekasan (beritajatim.com) – Fahri Hamzah menyampaikan bahwa politik saat ini sebagai bagian dari alat perjuangan atau bahkan jihad, yakni membela kebenaran sekaligus menegakkan kebenaran.

Hal itu disampaikan saat dirinya mengisi materi Ngaji Komunikasi Politik dengan tema ‘Komunikasi Politik yang Beradab sebagai Potret Masyarakat Muslim Indonesia’, dalam momentum Pekan Ngaji 4 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Sabtu (19/1/2019).

Dalam program tahunan bertajuk International Event tersebut, Fahri Hamzah dipanel dengan kompatriotnya di senayan, yakni Fadli Zon dan Nizar Zahro. Ketiganya secara bergantian menyampaikan materi ngaji sesuai dengan jadwal dan materi yang disiapkan.

“Pada dasarnya, Madura merupakan salah satu kota para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebab Indonesia tidak mungkin merdeka, jika tidak ada jihad fi sabilillah,” kata Fahri Hamzah.

Namun saat ini, bentuk jihad tidak lagi dilakukan seperti yang dipraktikkan oleh para pahlawan pada masa kemerdekaan. “Untuk jihad di masa damai saat ini adalah politik, yang juga memiliki orientasi yang sama dengan jihad,” ungkapnya.

“Bahkan saat ini, amal paling tinggi pahalanya adalah politik (berpolitik), jadi (politik) jangan dihindari. Proses politik yang mengantarkan kita ke surga, sehingga politik harus diisi kaum santri, ulama dan orang baik,” tegasnya.

Dari itu sangat penting untuk memahami esensi dari politik, salah satunya dengan memberbaiki pola komunikasi politik. “Idealnya untuk menuju komunikator politik, kita hanya meneruskan istilah Iqra’ (bacalah) seperti yang tertuang dalam al-Qur’an,” jelasnya.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa iqra’ merupakan landasan dari ilmu pengetahuan, dan orang yang berpengetahuan atau berilmu maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” sambung politisi asal Sumbawa.

Dari itu ia mengajak seluruh santri, alumni dan masyarakat untuk bersama-sama memulai segala tindakan diawali dengan niat yang bersih dan suci. “Dalam syahadat, hati harus membenarkan terlebih dahulu. Sebab kalau hati sudah benar, insya’ Allah lisan akan fasih,” pungkasnya. [pin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar