Politik Pemerintahan

Event Pamekasan Run 2019 Tuai Kritik

Pamekasan (beritajatim.com) – Giat perlombaan lari maraton bertajuk Pamekasan Run 2019 yang dipusatkan di area Monumen Arek Lancor, Minggu (24/11/2019). Menuai kritik dan menjadi perbincangan hangat di salah satu jejaring media sosial (medsos).

Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan sebagian peserta atau para atlet yang mengenakan pakaian minimalis khas atlet lari, terlebih garis start ditempatkan di alun-alun kota dengan latar kubah Masjid Agung Asy-Syuhada’ di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam.

Padahal kegiatan prestesius yang diikuti ratusan atlet, mulai atlet lokal maupun atlet nasional. Bahkan juga terdapat atlet dari mancanegara, di antaranya atlet dari Australia, Jepang, Kenya dan Malaysia. Apalagi giat tersebut merupakan event lari pertama yang digelar di kabupaten Pamekasan.

“Perlombaan ini merupakan event pertama yang digelar di Pamekasan, jumlah peserta sangat membeludak. Apalagi juga diketahui ada lima peserta dari internasional, semoga lahir atlet baru dalam perlombaan kali ini,” kata Panitia Pelaksana Pamekasan Run 2019, Edy Wijantono.

Hanya saja, upaya dan harapan justru mendapat penilaian berbeda dari kalangan masyarakat khususnya para netizen di medsos. Sebagian besar di antara mereka membandingkan ‘ikon Bumi Gerbang Salam’ yang selama ini identik dengan Kabupaten Pamekasan.

“Antara kubah masjid dan p**a dengan celana (bukan) cingkrang, Pamekasanku (gagal) hebat,” tulis akun Sangkembara yang juga memposting tagar #Moramiris. Bahkan ia pun juga merespon komentar netizen lainnya dengan jawaban “Kita (sementara) tidak perlu bicara cadar, karena ada yang lebih penting,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, akun lainnya juga tidak kalah ekstrim dalam memposting status di medsos. Di antaranya akun Ozin Daglie Edragon, ia menulis “Ini di depan Masjid Jami’ Pamekasan yang dikenal dengan kota Gerbang Salam, kota para ulama. Cukup satu periode,” tulisnya.

Bahkan salah satu anggota DPRD Pamekasan, Muksin juga memberikan kritik sindiran melalui status aplikasi WhatsApp pribadinya. “Foto viral pagi ini, saya penasaran ke siapa pemilik Oppo Reno ini. Pakai pamer punya Hp (Handphone) yang lumayan sampai watermark-nya tidak dibuang. Pamer,” tulisnya dengan menyertakan gambar para peserta di garis start.

Sementara salah satu tokoh Pamekasan, Ali Wafa Subki menilai semestinya terjalin koordinasi konkrit antar semua pihak dalam menggagas berbagai rangkaian program yang berpotensi menjadi polemik di masyarakat. “Seharusnya dan sudah semestinya ada konsensus pemahaman pada setiap SKPD, bahwa kemasan acara apapun menghindari apa yang menjadi acuan ulama, dalam hal ini menghindari kemaksiatan,” ungkapnya.

“Tetapi jangan patah semangat, tetap berbuat untuk lebih baik dan jangan anti kritik, terus berbuat. Dispora sudah melakukan yang luar biasa, hanya memang kedepan perlu perbaikan, terima kasih sudah mau capek berkarya untuk Pamekasan, sebab kami belum tentu bisa melakukan hal itu, bisa jadi hanya bisa menyampaikan kritik,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PKB Pamekasan.

Event maraton dari area Arek Lancor menuju Pantai Jumiang, Desa Tanjung, Pademawu, dibagi dalam tiga katagori berbeda, yakni katagori 2,5 kilometer (km), 5 km serta 13 km. Dibuka langsung oleh Bupati Pamekasan, Badrut Tamam bersama sejumlah jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) setempat. [pin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar