Politik Pemerintahan

NU dan Pilkada Jember (2)

Episode Perjuangan Kiai dan Santri Menghadapi Petahana Jember

Ifan Ariadna Wijaya (kiri) dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman

Jember (beritajatim.com) – Kekalahan demi kekalahan yang dialami pengurus Nahdlatul Ulama dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak 2000 hingga 2015 tak membuat patah arang.

Tahun ini, dari enam kandidat bupati dan wakil bupati, ada dua orang yang memiliki latar belakang NU kental: Muhammad Balya Firjaun Barlaman dan Ifan Ariadna Wijaya. Salah satu dari mereka diharapkan bisa menang dan menumbangkan petahana.

Firjaun mendampingi kandidat bupati Hendy Siswanto dan Ifan mendampingi calon bupati Abdus Salam Alamsyah. Mereka memiliki latar belakang sejarah yang sama, yakni dari Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra. Firjaun yang saat ini menjabat mustasyar Pengurus Cabang NU Jember adalah pengasuhnya, dan Ifan adalah santri di sana.

Firjaun dan Ifan juga relatif paling akhir masuk ke arena pertarungan. Jika kandidat lain berkampanye jauh-jauh hari, Ifan praktis baru mendeklarasikan pencalonannya di hadapan media massa pada 4 Februari 2020. “Saya mendapat tugas dari elite-elite dari beberapa partai di pusat untuk turun berkompetisi di sini. Mereka yang akan menyelesaikan apa yang jadi modal saya turun bersaing di Jember ini,” kata anak muda asal Kecamatan Bangsalsari ini waktu itu.

Bahkan Ifan sempat mohon restu kepada Firjaun yang saat itu belum mencalonkan diri menjadi pendamping Hendy Siswanto. “Saya sendiri baru tahu kalau Ifan pernah mondok di sana (Ash-Shiddiqi Putra), karena saya sudah lama di Kediri,” katanya.

Firjaun sempat menyarankan Ifan agar ikut pilkada lima tahun lagi, karena petahana terlalu kuat. Namun Ifan menegaskan ingin maju terus. “Tentunya murid yang baik manut sama gurunya. Tapi dalam politik, guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan muridnya untuk berprestasi, bukan mengajak bertarung. Ya sudah namanya politik, sah-sah saja. Tidak apa-apa,” kata Firjaun.

Firjaun sendiri semula sama sekali tak tertarik ikut kontestasi pilkada. “Saya berkali-kali diminta tapi tidak mau. Saya sudah lama di politik. Di politik terlalu banyak intrik dan distorsi. Kadang teman bisa jadi lawan karena perbedaan pandangan. Itu yang membuat saya tidak tertarik untuk terlibat dalam pilkada,” katanya.

Namanya baru muncul pada pertengahan Juli 2020. Firjaun berubah sikap setelah ada perintah dari masyayikh NU atau tokoh-tokoh NU yang dihormati agar mencalonkan diri. “Saya sami’na wa athokna (mendengarkan dan patuh, red) sebagai santri. Konsekuensi dari itu, saya berusaha. Perkara berhasil atau tidak, itu apa kata Gusti Pengeran. Saya santai saja,” katanya tanpa menyebut tokoh-tokoh NU yang mendorongnya mencalonkan diri.

“Saya melihat ini emergency. Saya ini dibutuhkan menurut pandangan para kiai. Andai tidak ada dawuh (perintah) dari para kiai, saya tidak akan maju,” kata Firjaun, kepada wartawan, di sela-sela pendaftaran di kantor Komisi Pemilihan Umum Jember, Jumat (4/9/2020).

Hendy sebenarnya berharap kehadiran Firjaun kala itu bisa menarik dukungan semua partai politik. “Komunitas saya adalah komunitas NU. Kami berharap seluruh potensi NU menyatu. Tentu kami akan merangkul semua, karena persoalan Jember bukan hanya persoalan NU, tapi semuanya,” kata Firjaun.

Namun, Ifan sudah bergerak lebih cepat daripada Firjaun untuk mendekati Partai Kebangkitan Bangsa dan kepengurusan NU Jember maupun Kencong. Statusnya sebagai santri membuatnya mudah bergerak. Apalagi saat itu, sebelum Firjaun mendeklarasikan diri, praktis Ifan menjadi kandidat yang paling berwarna nahdliyyin dibandingkan nama-nama lain yang muncul.

Ifan melakukan sosialisasi dan konsolidasi dengan ditemani Ketua Gerakan Pemuda Ansor yang juga Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi. Dia mendapat restu dari Dewan Pimpinan Pusat PKB untuk menggalang dukungan dari partai lain sebagai kandidat bupati Jember.

Ifan sendiri muncul bukannya tanpa modal politik. Dua kursi parlemen milik Golkar sudah digenggamnya. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jatim Sarmuji mengatakan, nama Ifan langsung disebutkan sendiri oleh Airlangga Hartarto, ketua umum partai itu. “Kami serahkan pada Ifan, mau jadi calon bupati atau wakil bupati,” kata Sarmuji.

Elite PKB dan PDI Perjuangan kemudian bertemu dan sepakat membentuk koalisi merah-hijau atau abang-ijo. Delapan kursi PKB dan tujuh kursi PDIP sudah cukup untuk mengusung pasangan calon sendiri. Apalagi ditambah dua kursi Golkar. Syarat jumlah kursi minimal partai atau koalisi partai untuk mengusung calon bupati dan wakil bupati sendiri adalah 10 kursi DPRD Jember.

Namun PDIP menyodorkan nama Abdus Salam Alamsyah, seorang pengusaha muda, menjadi calon bupati. Akhirnya disepakati calon bupati dan wakil bupati ditentukan berdasarkan hasil survei terbaru. Hasilnya, elektabilitas Salam lebih bagus daripada Ifan, sehingga dipilih menjadi kandidat P1. Belakangan, koalisi Salam-Ifan ini berhasil menarik dukungan dari Partai Berkarya (1 kursi), Partai Amanat Nasional (2 kursi), dan Perindo (2 kursi).

Sementara itu, partai berwarna NU lainnya, Partai Persatuan Pembangunan justru berharap bisa mencalonkan sang ketua cabang Madini Farouq menjadi wakil bupati. Gus Mamak, sapaan akrab Madini, diharapkan bisa mendampingi Djoko Susanto. Belakangan Dewan Pimpinan Pusat PPP akhirnya memilih untuk mendukung Hendy-Firjaun, bersama Partai Nasdem, Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera.

Bagaimana dengan kandidat petahana? Faida yang mencalonkan diri kembali melalui jalur perseorangan tidak lagi didampingi Abdul Muqiet Arief. Calon wakil bupatinya adalah Dwi Arya Nugraha Oktavianto, seorang pengusaha muda yang tak punya latar belakang nahdliyyin yang kuat. Dia lebih dikenal sebagai pengusaha biasa yang tak berurusan dengan masalah politik maupun keagamaan.

Sadar jika sekondannya tak punya cukup daya tarik bagi warga NU, Faida selalu mengatakan bahwa pencalonan Vian, panggilan akrab Oktavianto, tak lepas dari andil Muqiet. “Keputusan memilih Mas Vian sebagai calon wakil bupati adalah keputusan bersama berunding dengan Kiai Muqiet,” katanya.

Faida juga memberikan dua lembar kartu identitas penanda tim pasangan calon bagi Muqiet dan istrinya agar bisa masuk dan mendampingi dalam ruang pendaftaran di kantor Komisi Pemilihan Umum Jember, Minggu (6/9/2020). Faida menyebut Muqiet hadir dalam kapasitas saudara dan keluarga.

Namun kehadiran Muqiet saat pendaftaran Faida-Vian di KPU Jember direspons negatif Ikatan Alumni Annuqoyah Eks Karesidenan Besuki yang menjadi mesin pemenangan Faida-Muqiet dalam Pilkada Jember 2015.

Muqiet memang mustasyar IAA Eks Karesidenan Besuki. Namun Ketua IAA Muhammad Muslim menegaskan, organisasinya tak terkait dengan kehadiran Muqiet dalam pendaftaran Faida-Vian di KPU Jember. “Itu hak pribadi Kiai Muqiet sendiri,” katanya.

IAA bahkan mengirimkan pesan jelas. “Insya Allah mayoritas dari alumni mengharapkan ada perubahan di Jember. Kami berharap ada pemimpin yang lebih baik,” kata Muslim. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar