Politik Pemerintahan

EMCL Hentikan Sementara Produksi Migas Blok Cepu

Bojonegoro (beritajatim.com) – Operator lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menghentikan proses produksi sementara waktu. Penghentian produksi dilakukan selama sembilan hari.

“Saat ini sedang berlangsung,” ujar Vice President Public and Government Affairs, ExxonMobil Indonesia, Azi N Alam, Senin (21/9/2020).

Penghentian produksi tersebut, menurutnya merupakan bagian dari pemeliharaan rutin fasilitas produksi dan proses penyambungan (tie-ins) fasilitas produksi dengan proyek pengembangan lapangan gas unitisasi Jambaran-Tiung Biru (J-TB).

“Shutdown ini sudah direncanakan, dijadwalkan, dan disetujui dalam WP&B, sehingga tidak mempengaruhi target produksi,” jelasnya.

Azi N Alam mengatakan juga terus melakukan koordinasi dengan SKK Migas dan pemangku kepentingan terkait guna memastikan proses pemeliharaan fasilitas tersebut bisa dilakukan dengan aman, andal, dan efisien.

Sementara diketahui, Pertamina EP Cepu (PEPC) sebagai operator pengelolaan lapangan gas unitisasi Jambaran-Tiung Biru (J-TB) sebagai mitra aktif ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dalam pengelolaan Lapangan Banyu Urip, penyumbang 25% produksi minyak nasional.

Sebagai operator salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), proyek pengembangan gas lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB), PEPC berhasil melakukan alih kelola dari EMCL dan BKS. Lalu melanjutkan dalam tahap EPC Gas Processing Facility serta berhasil mendapatkan project financing terbesar se-Asia Pasifik bagi proyek migas.

“Dan hari ini PEPC kembali mempersembahkan salah satu milestone penting dalam Proyek JTB dengan melakukan well testing,” Komisaris Utama PEPC, Gandhi Sri Widodo dalam kesempatannya.

Well testing dilakukan pada sumur JAM-3 yang terletak di Lapangan Jambaran East  di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Senin (14/9/2020). Well testing dilakukan dengan proses clean up pada sumur JAM-3. Proses ini merupakan kegiatan pembersihan dari sisa-sisa material yang ada pada sumur saat dilakukan proses perforasi sebelumnya.

Berikutnya, selesai clean up, akan masuk pada tahap production testing pada sumur JAM-3, dari sinilah akan diketahui secara jelas kapasitas produksi sumur. “Sebuah capaian yang mengagumkan, bahwa tim PEPC dapat menunjukkan kinerja optimal di tengah situasi pandemi seperti ini,” ujar Direktur Utama PEPC, Awang Lazuardi. [lus/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar