Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Elektabilitas Rendah, Muhaimin Tetap Yakin Nyapres, Begini Penjelasannya

Muhaimin Iskandar.

Jakarta (beritajatim.com) – Hasil survei litbang Kompas periode Juni 2022 menunjukkan tidak ada nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dalam jejeran calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Hasil yang hampir serupa berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia Mei lalu, Muhaimin berada di deretan terbawah dengan 0,1 persen. Beberapa bulan sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis survei yang dilakukan pada 25-31 Januari 2021, Muhaimin memperoleh 0,2 persen.

Meski demikian, Muhaimin tetap percaya diri maju mencalonkan diri. Menurutnya, tidak ada alasan untuk tidak punya nyali maju sebagai capres. Saat ini PKB memiliki modal 10% sebagai syarat pencalonan presidential threshold (PT).

Muhaimin menerangkan, pesantren memiliki konsep yang lengkap dalam hal kepemimpinan maupun pembangunan bangsa dan negara. Kaum pesantren punya doktrin, ajaran, teori, strategi, ilmu kemasyarakatan, ilmu keumatan, kebangsaan hingga lahir darussalam, mabadik khoiru ummah. Lahir doktrin keluarga sakinah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah bashariyah.

”Teori pesantren jauh lebih tua dari teori sosialisme, kapitalisme. Semuanya lengkap, masak kayak gini nggak peryaca diri,” kata Muhaimin, dalam keterangan tertulisnya.

Dikatakan Gus Muhaimin, kaum santri wajib memiliki kepercayaan diri yang kuat karena memiliki warisan yang kokoh dan mengakar dalam konsep pembangunan mulai dari unit terkecil di lingkup keluarga hingga unit keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan. ”Seharusnya pesantren menjadi arus utama yang percaya diri dalam mempengaruhi pembangunan bangsa,” tuturnya.

Wakil Ketua DPR RI ini mengatakan bahwa Indonesia sudah pernah menerapkan konsep pembangunan ala sosialisme timur dan cenderung komunisme pada era Bung Karno yang belakangan dikenal dengan pola pikir sosialisme. Kemudian pada Era Orde Baru, Soeharto menerapkan model pembangunan leberalisme yang diadopsi dari Amerika Serikat (AS). ”Ujungnya bangkrut. Tahun 1998 rontok. Negara rugi ratusan triliun akibat pemilihan model kapitalisme, liberalisme maka era Reformasi lahir, era demokrasi. Era ini siapapun boleh mewarnai jalannya pemrerintahan, bangsa dan negara,” katanya.

Karena itu, kata Muhaimin, semua anak bangsa memiliki hak yang sama dalam mewarnai bangsa ini. ”Kita sebagai warga Nahdlatul Ulama yang begitu besar, pesantren-pesantren NU besar, aneh kalau tidak pecaya diri dan tidak ikut mewarnai jalannya pemerintahan dan pembangunan. Kalau sosialisme Bung Karno paling banter sanatnya sampai abad pertengahan. Kalau kapitalisme, liberalisme madzhab-nya paling tingi Eropa abad pertengahan. Kalau kaum pesantren punya sanat sambung ke para wali bahkan para nabi,” tuturnya.

Menurutnya, warisan para ulama dan para wali ini harus dipegang dan diperjuangkan. ”Perjuangan ini memang panjang. Saat Orde baru 32 tahun NU disia-siakan, tak pernah dapat tempat. Begitu juga sebelumnya, amanah Mbah Hasyim, Mbah Bisri, Mbah Wahab, tidak bisa disempurnakan. Alhamdulillah, di bawah naungan perjuangan NU, berbagai tantangan dilewati dan melahirkan Reformasi, demokrasi. Sekarang warga NU bebas menentukan langkah. Alhamdulillah banyak warna NU bisa berkiprah di berbagai level kehidupan. InsyaAllah kemajuan umat akan semakin nyata,” kata Muhaimin.

Karena itu, kata Muhaimin, jika presiden, menteri maupun kepala daerahnya dari kalangan santri, Indonesia akan menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera. ”Ini semua harus kita perjuangkan. Santri tidak akan mendapatkan haknya kecuali berjuang. Tak ada yang gratis. Tak ada yang rela memberikan akses yang baik kecuali kita berjuang sendiri. Tak ada jalan lain kecuali meningkatkan kualitas diri, mendorong semangat juang, insyaalah warisan Mbah Hasyim, Mbah Bisri, Mbah Wahab kita sempurnakan. Kita ubah Indonesia sesuai harapan para pendiri NU,” tuturnya. [hen/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar