Politik Pemerintahan

Ecoton Kembali Soroti Sampah Popok di Mojokerto yang Dibuang ke Sungai

Ecoton saat melakukan survei sampah popok bayi di Sungai Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan masih banyak sampah popok bayi yang dibuang di sungai yang ada di Mojokerto Raya. Kali ini, sampah popok ditemukan di Sungai Sumberwuluh, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto.

Ketua Ecoton, Prigi Arisandi mengatakan, masih ditemuinya ratusan sampah popok yang dibuang warga ke bantaran-bantaran sungai yang ada di Mojokerto Raya. “Evakuasi popok di kawasan Mojokerto Raya sudah dilakukan sejak tahun 2017 dan memang sudah banyak beberapa daerah melakukan pemulihan,” ungkapnya, Senin (20/7/2020).

Dari sejumlah daerah, masih kata Prigi, Mojokerto Raya dinilai tidak ada upaya serius dalam penangganan sampah popok khususnya di Kabupaten Mojokerto. Pemerintah daerah (pemda) dinilai tak memiliki keseriusan dalam upaya pengendalian sampah popok khususnya Pemkab Mojokerto yang wilayahnya memang lebih luas dari Kota Mojokerto.

“Permasalahan sampah popok di bantaran sungai yang ada di Kabupaten Mojokerto dan bermuara di Surabaya tak terselesaikan hingga kini. Mojokerto tidak serius dalam menangani sampah popok. Ini salah satu bukti di jembatan, terutama di Dawarblandong ini. Kalau memang pemerintah selama ini tidak melakukan upaya pengendalian,” katanya.

Contohnya, memasang plakat dan tidak memberikan kontainer popok sementara. Ada 42 titik pembuangan sampah tak beraturan di Mojokerto Raya hingga saat ini. Pihaknya pun mengkategorikan, timbunan sampah di Mojokerto Raya ada tiga jenis. Yakni, timbunan sampah sedang, kecil, hingga timbunan sampah besar.

“Di Dawarblandong ini termasuk yang besar, ada sekitar lima meter. Tapi kalau dekat perumahan dan lahan kosong banyak. Kita temukan di perumahan, seperti di Kecamatan Mojosari, Jetis dan juga sekitaran Kota Mojokerto. Perlu sikap serius pemerintah dan masyarakat harusnya juga melakukan upaya pengendalian,” ujarnya.

Yakni dengan pengurangan penggunaan sampah popok sekali pakai dan pembuangan sampah popok ke bantaran sungai terutama aliran Sungai Brantas yang bermuara ke Kali Marmoyo menuju Surabaya. Ada 5 juta orang yang bergantung pada air sungai sebagai konsumsi sehari-hari di wilayah Gresik, Sidoarjo dan juga Surabaya sendiri.

“Semua berdampak pada perikanan, bahan baku industri dan air sungai sebagai air minum. Jika membuang sampah seperti ini, dengan sikap Pemkab Mojokerto yang enggan mengendalikan pengendalian sampah popok, sama dengan meracuni air minum saudara-saudara kita. Di sini tidak layanan jemput sampah seperti daerah lain,” tuturnya.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah lain. Seperti Surabaya yang mencapai cakupan layanan penjemputan sampah sampai 80 persen. Di Gresik, Surabaya, Batu dan Kabupaten Malang juga sudah menyediakan kontainer khusus pupuk disejumlah titik pembuangan sampah. Pihaknya sudah monitoring dan akan melakukan upaya nyata.

“Kami akan mengirimkan surat ke Dinas Lingkungan Hidup, Jasa Tirta maupun BBWS yang merupakan pengelola aliran Sungai Brantas di wilayah Mojokerto Raya, Gubenur Jawa Timur hingga Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementrian Pekerjaan Umum. Terkait tindakan pemerintah soal sampah popok bayi yang dibuang ke sungai,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Dawarblandong Norman Hanandito belum memberikan tanggapan terkait temuan LSM Ecoton terkait sampah popok bayi di Sungai Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar