Politik Pemerintahan

Dua Petugas Pemilu di Banyuwangi Meninggal

Banyuwangi (beritajatim.com) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banyuwangi mencatat, dua orang petugas pemungutan suara meninggal dunia saat bertugas. Mereka adalah ketua KPPS TPS 28 atas nama Nanang Subiyanto (55), warga Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi dan Miseni, anggota Linmas TPS 06 Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

“Memang benar. Sesuai dengan data yang kita dapatkan ada 2 orang petugas yang meninggal dunia dan 8 orang yang masih dirawat,” ujar Komisioner KPU Banyuwangi Edy Syaiful Anwar, Kamis (25/4/2019).

Edy menyebut, selain dua orang meninggal masih ada 8 orang petugas yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Diduga, mereka mengalami lemah fisik karena tingginya aktivitas saat penungutan suara.

“Mereka kerja keras selama 5 hari. Mulai dari persiapan pembuatan TPS, pemungutan dan penghitungan suara hingga rekapitulasi di kelurahan atau desa,” tambahnya.

Saat ini, kata Edy, KPU Banyuwangi masih melakukan pendataan untuk para petugas itu. Data tersebut akan diserahkan kepada KPU Provinsi Jawa Timur dan KPU Pusat untuk pemberian santunan.

“Santunan dari KPU Banyuwangi belum ada. Sementara pakai uang pribadi. Saat ini kita lakukan pendataan untuk pengajuan santunan ke KPU Provinsi dan Pusat,” katanya.

Nanang Subiyanto (55), meninggal dunia diduga karena serangan jantung. Korban meninggal di rumahnya, sekira pukul 12.00 WIB, Selasa (22/4/2019). Jenazah sudah dikebumikan pada sore harinya.

“Saat itu, bapak hanya mengaku capek setelah menjadi petugas KPPS. Saat itu istirahat di kamar. Waktu akan meninggal itu kedip-kedip saja terus tidak sadarkan diri,” ungkap Juhariyah (54), istri Nanang

Lebih lanjut, kata Juhariyah, keluarga sempat membawanya ke rumah sakit. Namun sayang, nyawanya tak tertolong. “Kata dokter serangan jantung. Sempat kita bawa ke Rumah Sakit Fatimah,” tambahnya.

Diakui Juhariyah, aktivitas suaminya sebelum dan sesudah pemilu sangat tinggi. Mulai dari persiapan pembuatan TPS, pemungutan dan penghitungan suara hingga pelaporan ke kelurahan dilakukannya dengan kerja ekstra.

“Bapak tidak pernah sambat. Semua dilakukan sendiri. Bahkan saat penghitungan tidak mau diganti. Malah saat mengirim kotak dan surat suara mobilnya disopiri sendiri. Anggota lain juga menyertai ke kelurahan,” tambahnya. (rin/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar