Politik Pemerintahan

Dorong Kewirausahaan, RUU Cipta Kerja akan Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk dilirik para investor asing, baik dari segi sumber daya alam, pasar yang besar dan banyaknya jumlah tenaga kerja. Meski demikian, menurut Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Kristan, Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam dan banyak negara lain di pasar investasi.

“Para investor lebih senang membuka lapangan kerja di Vietnam. Padahal kualitas tenaga kerja di Indonesia tidak terlalu berbeda dengan Vietnam. Tapi kenapa para investor luar negeri lebih melirik Vietnam? Itu tantangan yang harus dijawab pemerintah dan DPR RI dalam membahas RUU Cipta Kerja,” kata Kristan saat dikonfirmasi via telp.

Sebelumnya, Kristan yang juga merupakan Ketua Generasi Muda Konghucu ini, menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi bertajuk RUU Cipta Kerja dalam Perspektif Tokoh Agama, yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Agama dan Fillsafat (LSAF), pertengahan Agustus lalu.

Baca Juga:

    Menurutnya, birokrasi dan ijin usaha dan berinvestasi di Indonesia sangat rumit. Ketika seorang pengusaha mengajukan izin sebuah produk, ia harus menghadapi beberapa elemen birokrasi yang rumit dan lama.

    Inilah alasan kenapa para investor luar negeri lebih suka berinvestasi dan membuka lapangan kerja ke Vietnam dan negara Asia Tenggara lain. Padahal, menurut Kristan, kebutuhan Indonesia pada penciptaan lapangan kerja sangat besar, baik saat ini, ataupun di masa mendatang.

    “RUU Cipta Kerja hadir untuk menjawab tantangan banyaknya pengangguran. Apalagi, dalam 20 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi. RUU Cipta Kerja akan menjawab itu dengan menghadirkan kemudahan aturan dan birokrasi yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi seperti investasi dan kemudahan berusaha bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Investasi dan UMKM yang banyak dan produktif, akan menciptakan lapangan kerja yang luas,” katanya.

    Kristan, yang aktivitasnya sering bersinggungan dengan para pelaku UMKM, menyoroti poin-poin dalam RUU Cipta Kerja yang mendorong pemberdayaan UMKM. Menurutnya, RUU Cipta Kerja membuat terobosan besar dan penting dalam pemberdayaan UMKM.

    “Banyak teman-teman pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usahanya kesulitan untuk pengajuan modal di bank, karena harus ada persyaratan agunan dan sebagainya. RUU Cipta kerja akan mengatasi permasalahan ini,” ungkap Kristan. Ketika pelaku UMKM mendapatkan kemudahan dalam memulai ijin usaha dan akses pada permodalan dan pemberdayaan, jumlah wirausahawan dan produktivitasnya akan meningkat, sehingga lapangan kerja baru tercipta secara lebih luas.

    Selain itu, poin penting lain dalam RUU Cipta Kerja adalah jaminan perlindungan hukum yang lebih kuat bagi tenaga kerja bebas, model pekerjaan yang disukai banyak generasi muda sekarang ini. “RUU Cipta Kerja adalah jawaban bagi generasi muda dan milenial yang lebih menyukai model kerja freelancer, yang pola waktunya fleksibel, sebagaimana juga bagi mereka yang memiliki potensi ingin mengembangkan ide-idenya dalam berwirausaha,” tegas Kristan.

    Memang, menurut Kristan, beberapa poin dalam RUU Cipta Kerja perlu dikritisi. Meski demikian, ia mengajak semua masyarakat, khususnya generasi muda, tidak asal menolak RUU ini, namun membacanya secara seksama. Menurutnya, pada dasarnya, RUU Cipta Kerja membawa harapan akan kondisi ekonomi Indonesia yang jauh lebih baik dan terciptanya lebih banyak lapangan kerja bagi segala lapisan masyarakat. (kun)





    Apa Reaksi Anda?

    Komentar