Politik Pemerintahan

Doni Monardo: Peliputan Jangan Buat Traumatik Korban Covid-19

Kediri (beritajatim.com) – Kepala Satgas Nasional Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo meminta peliputan Covid-19 tidak membuat traumatik terhadap korban.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bersama ratusan wartawan yang tergabung dalam program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP), pada Jumat (23/10/2020) kemarin.

“Awal-awal, untuk korban itu banyak yang terstigma negatif, banyak dokter ditolak, Akhirnya saya minta bantuan TNI, Polri dan BPBD untuk menyampaikan pesan bahwa dokter bekerja dan menjadi pahlawan kesehatan. Sekarang ini sudah tidak dapat laporan dokter ditolak di permukinan. Pemerintah sekarang bantu penginapan untuk dokter dan perawat kasusnya banyak. Sekarang ini tidak perlu lagi ada perasaan rendah diri karena terpapar Covid-19. Dan peliputan agar tidak membuat traumatik terhadap korban,” pintanya dalam diskusi melalui daring.

Diskusi publik tersebut mengambil tema ‘Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis’. Menghadirkan Komite Satgas Nasional Penanganan Covid-19 Doni Monardo, sebagai narasumber.

Dengan dimoderatori Prita Laura, menghadirkan narasumber lain, Penyintas Covid-19 Retri Anindyajati, Praktisi Kesehatan Lula Kamal, Dewan Pers Asep Setiawan dan Jerome Wirawan, selaku jurnalis BBC Indonesia.

Kesempatan pertama diberikan kepada Retri Anindyajati. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya berjuang melawan paparan virus dari Wuhan China itu. Disisi lain, ia merasa mendapatkan stigma negative dari sebuah pemberitaan di media.

Lula Kamal menyadari apa yang dirasakan oleh Retri. Diawal masuknya Covid-19 ke Indonesia, diakuinya kondisi memang kurang kondusif. “Zamannya mbak Retri beda sama sekarang. Delapan bulan kita bergaul dengan Covid, sekarang dengan penderita bergaul sama. Sebetulnya kondisinya chaos. Waktu itu keadaan di Jakarta seperti itu. Meskinya daerah lain bisa belajar dengan Jakarta,” ujarnya.

Menurut Lula, satu hal yang belum dilakukan adalah audit penyebab tenaga kesehatan yang banyak terpapar Covid-19. Diakuinya, fasilitas kesehatan sangat berisiko. Menurut catatannya, ruang ganti di rumah sakit dinilai paling berisiko dan ruang dokter yang sebelumnya biasa dipakai untuk aktivitas makan dan minum.

“Awal-awal tenaga kesehatan ya galau. Sekarang sudah delapan bulan berlalu dan sekarang kita sudah tahu. Misalnya persoalan pemakaian APD, sekarang udah tau semua. Tetapi ada tenaga kesehatan yang terkenanya justru saat berada di rumah. Makanya saya mengajak semuanya untuk tetap waspada klaster rumah tangga, dengan tetap memakai masker. Sebab yang bisa memutus rantai penyebaran Covid-19 adalah masyarakatnya sendiri. Pemerintah hanya bisa membuat aturannya,” jelasnya.

Sementara itu Doni Monardo mengajak seluruh wartawan di Tanah Air untuk terus mengkampanyekan Protokol Kesehatan. Khususnya terhadap jurnalis yang ikut serta dalam Program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP). Karena menurut Doni Monardi, harus disadari bahwa tidak ada tempat di Bumi ini yang aman untuk Covid-19.

“Kita perlu apresiasi bila ada daerah yang terbebas Covid-19. Artinya ketika kesepakatan bisa diikuti oleh masyarakat paling tidak protokol kesehatan dengan selalu pakai masker, menjaga jarak dan cuci tangan menggunakan sabun. Kalau ini bisa dilakukan, daerah-daerah bakal bebas covid-19,” tegasnya.

“WHO saja masih melakukan berbagai macam kebijakan. Covid-19 ini masih merupakan misteri dan masih banyak menjadi teka-teki. Kita harus belajar, tentang Covid-19. Apabila setiap daerah memahami Covid-19 dan menggunakan kearfian lokal maka covid segera selesai,” imbuhnya.

Diakuinya, pada awalnya angka kematian Covid-19 di Indonesia cukup tinggi. Kemudian pemerintah melakukan pendekatan budaya untuk mengatasinya. Doni memandang pendekatan ini bisa dilakukan oleh media dengan prosentase peran ini sebesar 36 persen.

“Tidak ada Negara yang benar benar siap menghadapi Covid-19. Amerika saja mengalami kondisi yang kewalahan. Penting bagi kita semua menyadari Covid-19, sehingga kita mampu mempersiapkan. Beberapa minggu terakhir ini kita mengalami trend kebaikan. Sebesar 6,77 persen penurunan kasus aktiv, disaat negara lain meningkat. Angka kesembuhan juga tinggi. Tetapi kita akui angka kematian diatas rata rata global,” jlentrehnya.

Dia mengatakan, jumlah dokter batas di tanah Air yang mana secara total kurang lebih 200 ribu orang, termasuk dokter spesialis kurang lebih 36 ribu, dan dokter paru 2 ribu orang. Dengan keterbatasan jumlah tenaga medis, maka diharapkan masyarakta dapat ikut serta untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus Covid-19 dengan cara mematuhi protokol kesehatan.

“Media dipercaya publik ternyata medsos, kedua TV. Diharapkan teman semuanya bisa membantu pemerintah membantu bangsa. Karena tidak sedikit masyarakat yang percaya berita yang belum tentu benar. Agar media memberikan pencerahan agar menerima berita benar. Agar masyarakat mau sukarela menyadari dan disiplin protkes. Selama obat dan vaksin belum ada yang terbaik 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak),” tutupnya. [nm/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar