Politik Pemerintahan

Doktor Komunikasi Universitas Jember Kritik PKB dan NU

Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, doktor komunikasi politik Universitas Jember, mengkritik Partai Kebangkitan Bangsa dan Nahdlatul Ulama, dalam acara seminar ‘Meneguhkan kembali Khidmat PKB kepada NU’ yang digelar Dewan Pimpinan Cabang PKB, di Hotel Luminor, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (4/2/2021).

“Dari 19 kabupaten dan kota dalam pilkada serentak kemarin, hanya di Sidoarjo kader PKB mendapatkan simpati hingga terpilih jadi bupati. Dalam pilkada 2020, lumbung (suara PKB di) Jawa Timur tidak berkorelasi positif,” kata Iqbal.

Iqbal mengingatkan pesan penting almarhum Rois Am Pengurus Besar NU pasca muktamar ke-31. “NU dan PKB bukan formulasi tapi relasi. Tidak otomatis kalau sudah NU, maka akan sama dengan apa yang jadi garis dan manhaj PKB. Relasi yang dimaksud tergantung perilaku atau amaliah dari seluruh kader, fingsionaris, dan elite PKB,” katanya.

Iqbal menilai selama ini PKB sebenarnya sudah sejalan dengan NU. Jika kemudian pilkada serentak di Jatim tidak sesuai harapan, maka itu harus menjadi bahan renungan bersama untuk mempersiapkan pemilu yang sama tiga tahun lagi. “Bukan logistik, bukan politik uang. Logika tanpa logistik katanya tidak jalan. Benar. Tapi bukan itu jalan keluarnya,” katanya.

Iqbal mengajak seluruh kader dan pengurus PKB untuk belajar dari fenomena calon legislator DPRD Jatim yang meninggal saat di tengah tahapan Pemilu 2019, Miftahul Ulum. Kendati sudah wafat, ia ternyata masih memperoleh dukungan puluhan ribu orang dan masuk dalam sepuluh besar suara terbanyak dalam pemilihan legislator DPRD Jatim.

“Apa rahasianya? Dia mampu membangun modal sosial luar biasa. Paling kurang di dalamnya ada dua, yakni trust building dan membangun jejaring komunikasi yang kuat. Dua cara ini perlu kita pakai sebagai patokan untuk hitung mundur memenuhi time schedule target minggu pertama sampai pada Juli 2024,” kata Iqbal. PKB harus bersiap dari sekarang untuk menyasar pemilihan legislatif tiga tahun lagi.

“Bagaimana dengan pilkada? Rontok dan keoknya kita di Jatim, harus kita akui, (PKB) tidak punya kecukupan waktu untuk melahirkan kader-kader yang sangat potensial. Padahal kita punya banyak stoknya. Tapi giliran di awal kita munculkan, tidak cukup punya waktu. Dimunculkan di akhir-akhir jelang pemenuhan prosedural administrasi (pilkada),” kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, menyiapkan kader-kader dari generasi milenial bukan hanya jadi problem PKB, tapi banyak partai di Indonesia. “Mengapa milenial penting, karena 2024 adalah pemilu pemilih milenial. Pemilih pemula dan pemilih muda milenial, tercatat paling kurang dengan data statistik hari ini, hampir 40 persen. Kalau hanya mengandalkan kader-kader ‘kolonial’ (generasi tua), tak akan kuat energinya,” katanya. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar