Politik Pemerintahan

DKUM Malang : Pengelola Koperasi Harus Kompeten

Malang (beritajatim.com) – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kabupaten Malang menggelar Pelatihan Peningkatan SDM Perkoperasian Bagi Pengurus/Pengawas Koperasi Wanita, Senin (7/9/2020) di pabrik keripik Lumba-Lumba, Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Pabrik keripik Lumba-Lumba dipilih sebagai lokasi pelatihan. Harapannya, para pelaku koperasi wanita di Kabupaten Malang mampu memetik inspirasi dari kesuksesan keripik Lumba-Lumba.

“Tempat ini (Pabrik Keripik Lumba-Lumba) dipilih agar pelaku koperasi bisa menggali inspirasi dari Pak Sucipto selaku pendiri dan pemilik Pabrik Keripik Lumba-Lumba,” ungkap Bupati Malang, HM Sanusi usai membuka kegiatan pelatihan tersebut.

Sebagai pengusaha keripik singkong, Sucipto mengawalinya dari nol. Termasuk meminjam wajan milik orang lain untuk menggoreng. Digelarnya pelatihan tersebut, menurut Sanusi agar para pelaku koperasi dan UMKM di Kabupaten Malang mampu meningkatkan manajemen koperasi.

“Diharapkan dengan pelatihan ini, pelaku koperasi mampu meningkatkan tatakelola koperasi, sehingga mampu meningkatkan omset yang lebih tinggi,” kata Sanusi.

Senada dengan Sanusi, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang, Pantjaningsih Sri Redjeki menjelaskan, pengelolaan koperasi harus dikelola dengan SDM yang kompeten.

“Ketika sebuah koperasi dikelola oleh SDM yang mumpuni dan kompeten insyallah koperasi itu bisa maju. Karena koperasi itu kaitannya dengan menggerakkan orang. Lantas, ketika menggerakkan orang, harus ada nilai kepemimpinannya,” tegas Pantjaningsing.

Lebih lanjut, Pantja -sapaan akrab Pantjaningsih Sri Redjeki- jumlah koperasi di Kabupaten Malang sebanyak 1324 koperasi. Sedangkan jumlah Kopwan (Koperasi Wanita) sebanyak 378 koperasi. “Dari sekian jumlah koperasi itu, 11 koperasi diantaranya terancam bubar akibat SDM-nya yang tidak kompeten. Oleh karenanya peningkatan SDM tersebut penting untuk dilaksanakan,” bebernya.

Peningkatan SDM itu, disebutkan Pantja paling tidak harus mengerti akutansi, punya jiwa kepemimpinan. “Sehingga diharapkan lagi, koperasi, khususnya kopwan tidak hanya mengelola simpan pinjam saja. Tapi bisa mempunyai produk sendiri,” pungkasnya. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar