Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

DJPb Jatim: Per Mei 2022 Realisasi Pendapatan Negara Capai 46,84%

Surabaya (beritajatim.com) – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Keuangan Unit Eselon I Jawa Timur menggelar paparan hasil pleno dari Asset and Liability Committee (ALCo) Regional Jatim.

Dalam paparannya Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPb) Jawa Timur, Taukhid mengatakan sampai dengan 31 Mei 2022, realisasi pendapatan negara mencapai Rp105,09 triliun atau 46,84 persen dari target sebesar Rp224,34 triliun.

Capaian pendapatan tersebut berasal realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp39,15 triliun atau 41,88 persen, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp63,44 triliun atau 50,39 persen dan realisasi PNBP mencapai Rp2,49 triliun atau secara nominal tumbuh positif 2,37 persen.

Realisasi belanja negara mencapai Rp43,88 triliun atau 37,06 persen dari alokasi Rp118,43 triliun.

“Hal ini didorong dengan beberapa hal, di antaranya keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan penyebaran Covid-19, sehingga aktifitas ekonomi masyarakat kembali bergerak,” kata Taukhid dalam press conferance yang digelar secara hybrid (online dan offline) di Surabaya.

Sementara itu, belanja K/L terealisasi Rp14,03 triliun atau secara nominal tumbuh negatif 1,92 persen yang salah satunya disebabkan penurunan realisasi Belanja Modal (27,94 persen) dan Belanja Barang (2,63 persen) dibandingkan TAYL (Tahun Anggaran Yang Lalu).

Kemudian Transfer Kedaerah dan Dana Desa (TKDD) terealisasi Rp29,85 triliun atau 39,78 persen ditopang oleh penyaluran DAU (Dana Alokasi Umum) sebesar Rp18,43 triliun.

TKDD terealisasi Rp29,85 triliun atau 39,78 persen ditopang oleh penyaluran DAU sebesar Rp18.43 triliun. Dana bagi Hasil terealisasi Rp2.42 T atau secara nominal turun 33,19 persen dibandingkan TAYL.

Realisasi pendapatan APBD Konsolidasian se-Jatim mencapai Rp45,73 triliun atau 37,41 persen dari target sebesar Rp122,23 triliun yang didominasi oleh Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat (TKDD) dengan proporsi 65,29 persen dari total pendapatan daerah.

Realisasi belanja daerah konsolidasian mencapai Rp31,62 triliun atau 23,79 persen dari target sebesar Rp132,92 triliun yang didominasi oleh komponen belanja pegawai dengan proporsi 32,22 persen.

“Dengan demikian terjadi Surplus Anggaran sebesar Rp14,10 triliun serta Pembiayaan Bersih sebesar Rp6,38 triliun dan menghasillkan SILPA sebesar Rp20,48 triliun,” kata Taukhid.

PDRB Jatim triwulan I-2022 sebesar Rp649,54 triliun (ADHB) atau Rp427,65 triliun (ADHK), tumbuh dibandingkan periode sebelumnya, 0,75 persen (q-to-q) dan 5,20 persen (y-on-y). Industri Pengolahan berkontribusi terbesar 31,00 persen (lapangan usaha) dan Konsumsi Rumah Tangga (K-RT) terbesar sebesar 58,96 persen (Pengeluaran).

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 4,81 persen, turun 0,36 persen dibandingkan dengan Februari 2021, namun naik 1,57 persen dibandingkan dengan Februari 2020.

NP bulan Mei 2022 defisit US$0,74 miliar (sektor migas US$0,51 miliar & Non Migas US$ 0,24 miliar). Secara kumulatif sampai dengan Mei 2022 defisit US$3,12 miliar. Impor didominasi oleh bahan baku, khususnya sektor migas (industri bahan bakar dan minyak bumi) oleh PT Pertamina Patra Niaga.

Tingkat Inflasi Mei 2022 sebesar 4,24 persen (y-on-y), 2,79 persen (tahun kalender Mei 2022 dibandingkan Des 2021), dan 0,49 persen (m-to-m). Tingkat inflasi bahan makanan Mei 2022 sebesar 6,68 persen (y-on- y), 5,07 persen (tahun kalender), dan 0,94 persen (m-to-m).

“Pada periode ini, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Inflasi terbesar pada kelompok pengeluaran transportasi 0,94 persen, sementara kelompok pengeluaran pendidikan memiliki inflasi terkecil yaitu sebesar 0,01 persen,” katanya.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2022 sebesar 128,9 lebih tinggi dibandingkan IKK April 2022 sebesar 113,1 dikarenakan kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-masing sebesar 17,5 poin dan 14,3 poin.

Sementara, neraca perdagangan Jawa Timur selama bulan Mei 2022 mengalami defisit sebesar US$0,74 miliar. Defisit ini disebabkan karena selisih nilai perdagangan pada sektor migas sebesar US$0,51 miliar, demikian juga di sektor nonmigas mengalami defisit nilai perdagangan sebesar US$2,23 miliar.

Secara kumulatif selama Januari-Mei 2022 neraca perdagangan Jawa Timur juga masih mengalami defisit sebesar US$3,12 miliar.

Hal ini disebabkan karena defisit pada sektor migas sebesar US$2,74 miliar dan sektor nonmigas sebesar US$0,38 milIar. Kondisi ini membuat kedua sektor tersebut perlu peningkatan kinerja agar neraca perdagangan Jawa Timur secara kumulatif berubah menjadi surplus di periode berikutnya.

“Selain itu perlu diupayakan untuk menekan atau mengurangi defisit dari sektor migas,” katanya.

Di sisi lain, Konflik Rusia-Ukraina pun berdampak terhadap perekonomian Regional Jatim terutama pada sisi penawaran (supply side) karena konflik berdampak pada jakur perdagangan sehingga mengakibatkan lonjakan harga komoditas, lonjakan harga energi, dan shock terhadap supply chain) dan keuangan (pergerakan nilai tukar rupiah). [asg/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar