Politik Pemerintahan

Ditunjuk Pimpin PDIP Surabaya, Siapa Adi Sutarwijono Sebenarnya?

Surabaya (beritajatim.com) – DPP PDI Perjuangan menugaskan Adi Sutarwijono untuk menjadi Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, meneruskan kiprah Whisnu Sakti yang telah menjadi ketua PDIP Surabaya selama dua periode alias 10 tahun. Keputusan itu ditolak sebagian pihak PAC, namun tak sedikit pula yang mendukung. Siapa sosok Adi Sutarwijono sebenarnya?

Awi, sapaan akrab Adi Sutarwijono, selama ini dikenal sangat mudah berkomunikasi dengan siapa pun. Dia mudah diakses. Ditelepon atau dihubungi lewat WhatsApp, mesti direspons. Bahkan, saat tengah malam. “Karena menjadi petugas PDI Perjuangan di struktur partai maupun legislatif, haruslah membuka diri terhadap dinamika situasi di luar,” ujar Awi.

Awi adalah alumnus Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dia sempat berkiprah menjadi wartawan Surya, salah satu koran di Jawa Timur. Kemudian berlabuh ke Majalah TEMPO hingga tahun 2003, sebelum akhirnya aktif di PDIP.

Saat pergolakan PDI Pro-Mega pada tahun 1996, Awi dikenal memberikan dukungan melalui pemberitaan di media massa. Begitu pula saat era gerakan reformasi. “Bagi kami para wartawan, perspektif kerakyatan harus dibangun dalam tulisan,” ujar Awi.

Karakter sebagai wartawan yang egaliter itu terbawa hingga saat dia menjadi anggota DPRD Surabaya sejak 2012 hingga kini. Awi aktif menyelesaikan problem-problem pembangunan di masyarakat, terutama di daerah pemilihannya. Seperti perbaikan jalan, saluran air dan lampu jalan.

Dia juga responsif ketika warga menghadapi persoalan, seperti saat tahun ajaran baru sekolah, sakit di rumah sakit atau membutuhkan ambulans secara cepat.

Salah satu kisah advokasi yang menarik adalah saat membela Ibu Marmila, UMKM rujak cingur di kawasan Gunung Anyar Surabaya yang sempat viral karena menjual rujaknya seharga Rp 60 ribu.

Kisah itu viral setelah diunggah netizen yang merasa keberatan, karena UMKM pinggir jalan menjual rujak seharga Rp 60 ribu per porsi. Padahal, itu merupakan porsi jumbo yang bisa dinikmati 3-4 orang. Akibat viral itulah, sejumlah aparat kelurahan setempat ramai-ramai mendatangi kedai rujak cingur milik Ibu Marmila.

“UMKM jualan Rp60 ribu per porsi didatangi aparat apa urusannya? Di mall, sepotong daging dijual Rp 500 ribu. Di mall, rujak cingur dijual Rp 100 ribu. Kenapa UMKM pinggir jalan selalu dimusuhi? Kan dia jual ada strategi, porsi jumbo dengan jumlah cingur banyak, dijual Rp 60 ribu apa salahnya? Kalau mau beli, tanyakan transaksi, ya kalau enggak mau beli, enggak usah ribet. Jangan UMKM dibully,” kata Awi saat itu.

Pembelaan Awi itu akhirnya membuat aparat tak lagi mendatangi kedai mungil milik penjual rujak cingur tersebut.

Menjadi anggota DPRD Kota Surabaya, Awi aktif mengonsolidasi kekuatan PDIP dan jaringan sosial di Dapil-nya. Akibat kerja-kerja intens itu, dalam Pemilu 2014, perolehan kursi PDIP untuk DPRD Kota Surabaya di Dapil 3 kawasan Surabaya Timur melonjak 200 persen. Dari 1 kursi hasil Pemilu 2009, menjadi 3 kursi di Pemilu 2014 dan mempertahankannya pada Pemilu 2019.

“Dapil 3 Kota Surabaya Timur semula menjadi ‘daerah gersang’ suara PDIP. Kini, telah berubah menjadi basis penting PDIP. Dalam Pemilu 2019, Dapil 3 berhasil mempertahankan perolehan 3 kursi di DPRD Kota Surabaya, serta memenangkan suara Jokowi-KH Ma’ruf Amin,” cerita Andhy Puryanto, Ketua PAC PDIP Kecamatan Rungkut.

Awi pun dikenal berkontribusi aktif memenangkan penugasan partai, seperti gerakan pemenangan Risma-Bambang DH dalam Pilkada Kota Surabaya tahun 2010. Saat itu Risma-Bambang DH menang 16 kecamatan, sedang lawannya, Arif Affandi-Adies Kadir menang di 15 kecamatan.

Dari 16 kecamatan itu, Risma-Bambang menang di 5 kecamatan Dapil 3 yang merupakan asal Awi. Dari 28 kelurahan di Dapil 3, Risma-Bambang DH menang di 27 kelurahan.

Dalam catatan media, Awi juga selalu terlibat dalam tim pemenangan PDIP sejak Pemilu dan Pilpres 2004, Pilkada Kota Surabaya 2005, Pilgub Jatim 2008, Pemilu dan Pilpres 2009, Pilkada Kota Surabaya 2010, Pilkada Jatim 2013, Pemilu dan Pilpres 2014, Pilkada Kota Surabaya 2015, Pilkada Jatim 2018 dan Pemilu dan Pilpres 2019. (tok/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar