Politik Pemerintahan

Dipertabun Kabupaten Kediri Akan Patenkan Bengkoang Loksongo Super

Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri akan mendaftarkan sebagai sertifikasi buah bengkuang hasil temuan petani di Desa Tugurejo Sebagai Hak Paten Produk Kabupaten Kediri. Buah yang biasanya disajikan dalam varian rujak tersebut berukuran jumbo.

Dipertabun aakan berkomunikasi dengan kementrian terkait dan didaftarkan paten sebagai buah asli produk Kabupaten Kediri. Namun sebelum melakukan hal tersebut pemerintah akan melakukan observasi terhadap jenis bibit bengkuang yang dinamakan bengkuang lok songo super tersebut.

Selain itu dinas juga akan memberikan edukasi kepada petani agar produksi mereka lebih optimal. Dalam hal ini, agar bibit yang dibudidayakan tersebut hasilnya merata dengan hasil yang maksimal secara keseluruhan, karena saat ini buah yang berukuran jumbo tersebut, belum bisa tumbuh secara merata dalam satu kali panen.

Arahayu Setya Adi, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura Dipertabun Kabupaten Kediri

 

“Saat ini jenis bengkoang LSS atau Loksongo Super sudah di budidayakan oleh petani di Desa Tugurejo yang berjumah 10 orang. Semoga bisa dikembangkan terus,” kata Arahayu Setya Adi, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura Dipertabun Kabupaten Kediri, Selasa (28/1/2020)

Selain Desa Tugurejo, penghasil bengkoang di Kabupaten Kediri, juga tersebar di Kecamatan Kayen Kidul dan Papar, dengan luasan mencapai lebih dari 30 hektar. Hasil produksi buah ini dipasarkan di daerah Bali, Malang, Surabaya dan sekitar Kediri.

Ialah Suyarno, seorang petani asal Desa Tugurejo yang berhasil menemukan bibit buah bengkoang berukuran super dari hasil eksperimennya selama 2 tahun. Bengkoang yang diberi nama bengkuang Luk Songo Super atau LSS yang produksinya jauh lebih banyak, jika dengan bibit sebelumnya dalam 1 hektar mampu panen 3 hingga 4 ton, dengan bibit LSS ini petani mampu memproduksi 6 hingga 10 ton per hektar.

Selain jumlah produksi lebih tinggi, dalam setahun petani bisa menanam 2 hingga 3 kali. Sementara dengan bibit sebelumnya hanya 1 hingga 2 kali dalam setahun. Harga jualnya saat ini cukup tinggi perkilo seharga Rp 2.500 yang sebelumnya hanya seribu Rp 800 perkilogram. [adv kominfo/nm].





Apa Reaksi Anda?

Komentar