Politik Pemerintahan

Dikebut, Pembagian Bansos APBD Jombang Capai 86 Persen

Bupati Jombang Hj Mundjidah menyerahkan Bansos APBD di Desa Kepatihan, Kamis (14/5/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Pembagian bantun sosial tunai (BST) yang bersumber dari APBD Jombang untuk warga terdampak corona (Covid-19) terus dikebut. Tak ayal, hingga saat ini pembagian kepada warga tersebut sudah mencapai 86 persen.

Demikian disampaikan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab usai melakukan monitoring pembagian Bansos (Bantuan Sosial) di Kantor Desa Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Jombang. “Kami targetkan paling lambat 20 Mei 2020, pembagian Bansos tersebut sudah tuntas,” ujar Mundjidah, Kamis (14/5/2020).

Dalam kesempatan itu, bupati yang didampampingi Camat Jombang Muhdlor juga melihat data penerima yang tertempel di kaca kantor desa. Terdapat 366 nama penerima Bansos APBD. Mereka merupakan warga terdampak. Mulai penjual kopi, pemilik warung, serta beberapa pekerjaan lainnya.

Sejak virus corona mewabah, aktivitas mereka dibatasi. Warung kopi tidak boleh buka. Dengan begitu, penghasilan mereka juga turun drastis. “Semoga dengan adanya bantuan ini bisa meringankan beban warga terdampak. Karena situasi saat ini memang serba sulit,” ujar Mundjidah.

Bupati Mundjidah juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada warga di balai desa tersebut. Adalah seorang nenek bernama Yeni yang diminta maju ke depan. Dengan langkah tergopoh-gopoh, wanita berambut putih ini berdiri di dekat bupati.

Bupati Mundjidah melihat data penerima Bansos di Kantor Desa Kepatihan, Kamis (14/5/2020). [Foto/Yusuf Wibisono)
Dia kemudian menerima bantuan uang tunai Rp 200 ribu ditambah satu paket sembako serta vitamin. “Di Desa Kepatihan ini berbeda dengan lainnya. Karena selain mendapatkan uang tunai juga ada tambahan sembako. Ini patut dicontoh,” ujar bupati yang disambut aplaus.

Kepala Desa Kepatihan Erwin Pribadi menyampaikan terima kasih atas kunjungan Bupati Mundjidah. Dia menjelaskan, penerima Bansos APBD Kabupatem di Desa Kepatihan sebanyak 366 orang. Nah, setelah dilakukan verifikasi terdapat 27 nama yang dicoret. Alasannya, mereka menerima bantuan ganda, kemudian ada juga yang sudah meninggal.

Soal penambahan sembako, Erwin menjelaskan bahwa itu sengaja dilakukan untuk lebih meringankan beban warga terdampak. “Anggaran untuk sembako ini kita ambilkan dari dana desa. Satu paket sembako plus vitamin, senilai Rp 100 ribu,” pungkas Erwin. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar