Politik Pemerintahan

Di Hadapan Ulama se-Jatim, Panglima TNI Blak-blakan Soal Kerusuhan 21-22 Mei

Jombang (beritajatim.com) – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bertemu dengan puluhan ulama se-Jawa Timur di aula KH Yusuf Hasyim, pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (20/6/2019). Dalam forum tersebut, Panglima TNI menyampai informasi secara ‘blak-blakan’ tentang kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Jakarta.

“Beberapa waktu lalu, saya memang bertemu dengan Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid). Beliau meminta agar saya menyampaikan secara langsung soal kerusuhan di Jakarta kepada para ulama. Alhamdulillah, hari ini saya bisa memenuhi permintaan itu,” ujar Marsekal Hadi Tjahjanto mengawali uraiannya.

Untuk memudahkan dalam menjelaskan materi, tidak jauh dari podium tempat Panglima TNI berdiri terdapat layar yang sudah tersambung dengan komputer jinjing. Di layar itulah data-data seputar kerusuhan terpampang.

Mulai jumlah pasukan yang diterjunkan, strategi yang diterapkan, jumlah korban luka, korban yang menjalani rawat inap, serta jumlah korban yang meninggal. Semua muncul di layar lebar tersebut. Tentu saja, puluhan hadirin yang notabene para ulama se-Jatim bisa melihat dengan jelas layar power point itu.

“TNI dan Polri solid dalam meredam kerusuhan. TNI dan Polri tidak boleh pecah. TNI dengan kekuatan 480.000 personel dan Polri berkekuatan 440.000 personel merupakan kekuatan besar yang tidak boleh pecah. NKRI akan tetap utuh kalau TNI dan Polri solid. Itu yang kita lakukan guna meredam kerusuhan,” ujar Hadi.

Hadi Tjahjanto mengungkapkan, pihaknya jauh-jauh hari sudah mencium bakal adanya kerusuhan tersebut berdasaran data intelijen. Karena itu, persiapan dia lakukan bersama polri. Melakukan analisa serta berbagai upaya untuk meredamnya. Termasuk belajar dari kerusuhan Mei 1998. Dia tidak ingin tragedi Mei 1998 terulang.

Oleh karena itu, TNI bersama polri melakukan langkah-langkah persiapan untuk mengatasi, dan menanggulangi kemungkinan betul-betul terjadinya kerusuhan. Termasuk menyiapkan rumah sakit darurat di Cilangkap serta dapur umum.

Hadi menceritakan, pada 20 Mei 2019 pihaknya sudah menggelar pasukan di sejumlah titik. Antara lain di depan Bawaslu, KPU, Istana Merdeka, dan gedung DPR. Monitoring dilakukan secara ‘wide angle’. Untuk keperluan itu, Mabes TNI sedikitnya menurunkan 16.000 personel untuk membantu pengamanan di Jakarta. Total dengan personel Polri sekitar 35.000 orang.

Analisa Hadi benar. Demonstrasi meletus pada 21 Mei. Yakni, di depan kantor KPU, kemudian di Bawaslu. Namun yang terbesar di Bawaslu, sekitar 2000 orang yang berorasi sampai buka puasa bersama, salat maghrib, dan kemudian salat tarawih.

Setelah itu, sekitar pukul 22.00 WIB, 2.000-an orang demonstran mulai meninggalkan lokasi demo. Namun pada saat itu, datang sekitar 500 orang yang bukan bagian dari demonstran tadi. Nah, ratusan orang yang baru datang inilah mulai memprovokasi dengan teriakan-teriakan untuk merusak barikade. Sejurus kemudian terjadi bentrok antara polisi dan para perusuh.

Kerusuhan, kata Hadi Tjahjanto, terus berlanjut sampai wilayah Tanah Abang. Di situ mulai ada pembakaran kendaraan milik warga setempat oleh massa perusuh. Karena kerusuhan terus berlanjut hingga dini hari, maka personel TNI diterjunkan untuk membantu.

Menurut Hadi, sebenarnya pukul 01.30 WIB massa sudah bisa dibubarkan, namun sebagian masuk ke Petamburan. Ternyata di sana sudah berkumpul 500 orang. Selanjutnya, pukul 02.30 WIB, mulailah massa melakukan pembakaran mobil dan motor. Bahkan massa ada yang menyerang Polsek Gambir dan merusak mobil dinas kapolsek.

Tak hanya di Gambir, ratusan orang juga merusuh di Jalan Otto Iskandar Dinata, Cipinang. Praktis, pada 21 Mei malam hingga 22 dini hari itu ada tiga kejadian. Yakni di Bawaslu yang berhasil dikendalikan, kemudian di Petamburan dan yang ketiga di Cipinang.

“Karena kerusuhan terus berlanjut, TNI diterjunkan untuk membantu mengendalikan massa. Namun saat TNI dari Kostrad dan marinir membantu, justru mendapat perlakukan berbeda. Para TNI itu dipeluk oleh massa perusuh,” ujar Panglima TNI.

Dari situ, menurut Hadi, angle kamera seakan-akan mengajak personel TNI untuk melindungi dirinya dari tindakan petugas kepolisian. Hal itulah kesan ingin disampaikan oleh pendemo. Padahal, TNI ingin membantu polisi mengendalikan massa agar tidak membuat rusuh.

Karena itulah, Panglima TNI langsung berkomunikasi dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian agar berhati-hati terhadap kemungkinan adanya usaha mengadu domba antara TNI dengan Polri. Gambar tersebut besar kemungkinan akan digoreng sebagai upaya adu domba TNI dengan Polri.

Kapolri dan Panglima kemudian sama-sama memberikan briefing kepada jajarannya agar tidak percaya terhadap isu-isu atau gorengan isu yang tujuannya memecah belah TNI-Polri. “Dan alhamdulillah sampai sekarang TNBI dan Polri tetap solid dan bersatu,” tandas Hadi, disambut tepuk tangan ratusan undangan yang memenuhi ruangan acara.

Hadi juga menjelaskan secara detail jumlah korban meninggal sebanyak 9 orang. Dari jumlah itu, satu orang meninggal akibat pukulan benda tumpul. Sedangkan lainnya akibat tembusan peluru tajam. Hadi menegaskan, saat ini kasus tersebut ditangani oleh tim pencari fakta dari Polri dan juga Komnas HAM.

“Terkait kasus kerusuhan pada 21 dan 22 Mei itu sendiri, kita serahkan pada koridor hukum. Yang tertangkap sebanyak empat ratus sekian. Mereka adalah para pelaku dan juga saksi yang saat ini masih diproses,” kata Hadi memungkasi paparannya.

Usai melakukan silaturahmi dengan para ulama, Panglima TNI melakukan ziarah ke makam Presiden Abdurrahaman Wahid atau Gus Dur yang ada di komplek pesantren Tebuireng. Di makam tersebut, Panglima memanjatkan doa secara khusuk. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar