Politik Pemerintahan

Di Hadapan Mahasiswa Universitas Zainal Abidin Malaysia, Sambari Klaim Sukses Terapkan PSBB

Gresik (beritajatim.com) – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Gresik, diklaim sukses oleh Bupati Sambari Halim Radianto. Hal itu disampaikan saat memberi kuliah jarak jauh dengan puluhan mahasiswa Universitas Zainal Abidin (Uniza) Malaysia.

Bupati lulusan Doktor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu, memaparkan PSBB sejak 28 April 2020 lalu dan saat ini sudah memasuki hari ke 9. Terkait dengan aturan tersebut pihaknya juga melakukan evaluasi. Mulai dari sektor ekonomi, kesehatan maupun sosial budaya.

“Di aturan PSBB itu, kami tidak melarang tapi membatasi baik itu aktivitas keagamaan, perekonomian maupun akses keluar masuk Gresik,” ujar Sambari, dihadapan mahasiswa Pasca Sarjana Magister Hukum dan Pembangunan Unair Uniza, Rabu (6/05/2020).

Sambari juga menjelaskan, kasus Covid-19 di Gresik tergolong sedikit dibanding kota lainnya. Hanya saja, 30 orang yang terpapar positif tidak mungkin berhenti. Sebab, itu dirinya menghimbau masyarakat selalu patuh terhadap aturan yang ada.

Saat memberi kuliah jarak jauh. Bupati Gresik itu, juga berbincang dengan dosen Uniza Prof Suyatno yang di Malaysia. Prof Suyatno bertanya bagaimana di Gresik bisa sukses untuk membatasi kegiatan keagamaan dan kegiatan lain. “Saya bilang ke Prof Suyatno disini kan memang masyarakat patuh aturan pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, kebanyakan kasus konfirmasi positif di Gresik kebanyakan berasal dari klaster Surabaya. Tercatat, dari 30 orang yang terpapar positif. Dari
jumlah itu, 19 diantaranya berasal dari Surabaya. Kemudian 4 klaster haji, 4 dari Jakarta, 1 dari sampoerna, dan 2 dari Gresik.

Dominasi klaster Surabaya itu karena memang Gresik berbatasan langsung dengan Kota Pahlawan itu. Terutama di Kecamatan Menganti, Driyorejo dan Kebomas.

Tapi, anehnya, di perbatasan-perbatasn tersebut pemeriksaan di titik check point kurang ketat. Di jam-jam tertentu kendaraan yang lewat tidak diperiksa. Padahal di lokasi ada petugasnya. “Saya melintas dari Surabaya tidak diperiksa padahal ada petugas,” kata Adi Wijaya pengendara motor asal Desa Kedanyang, Kebomas. [dny/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar