Politik Pemerintahan

Debat Pilwali Surabaya, Mujiaman Lebih Banyak Berbicara Dibanding Armuji

Armuji - Mujiaman

Surabaya (beritajatim.com) – Kemampuan Calon Wali Kota dan Calon Wakil Wali Kota diuji dalam debat perdana tadi malam di Hotel J.W. Marriott. Selain memperlihatkan kapasitas masing-masing pasangan calon (paslon), debat sekaligus menguji kerja sama antara cawali dan cawawali.

Host debat, Helmi Kahaf dan Rina Fahlevi, memberi 18 kali kesempatan bicara kepada setiap paslon. Mereka boleh bergantian bicara dalam selang waktu yang sudah ditentukan.

Cawali nomor urut 1 Eri Cahyadi memberikan kesempatan bicara kepada calon wakilnya, Armuji, selama 6 kali. Artinya selama 12 kali kesempatan, Eri Cahyadi yang menyampaikan pendapat.

Berdasarkan durasi menit Paslon 1, Eri Cahyadi 18 kali bicara dengan durasi 23 menit dan 41 detik. Sementara wakilnya Armuji 6 kali bicara dengan durasi 3 menit dan 34 detik.

Sedangkan Paslon 2, Machfud Arifin bicara sebanyak 18 kali dengan durasi 22 menit dan 39 detik. Dan wakilnya Mujiaman Sukirno 16 kali bicara dengan durasi 8 menit dan 41 detik.

Sehingga Machfud Arifin memberi waktu bicara Mujiaman sebanyak 16 kali. Rata-rata mujiaman diberi waktu lebih dari 30 detik. Dalam debat tersebut Machfud tak tampil dominan sendirian dan Mujiaman juga sering menunjukkan perannya sebagai wakil yang siap memberikan back up.

Mujiaman turut memberikan komentar salah satunya ketika menyoroti kampung kumuh dan banjir yang terjadi di Surabaya. “Ternyata kampung baru punya saluran tak terhubung dengan saluran besar. Ini kita harus berikan bantuan Rp 150 juta untuk memastikan mereka bisa membangun kampungnya,” terang Mujiaman.

Terpisah tokoh pers Jatim Dhimam Abror turut memberikan komentar pada debat sesi pertama calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya. “Debat live ditanya soal IPM dan rasio gini paslon no 2 gak bisa jawab dan kurang sigap mengelak. Paslon no 1 diuber soal surat ijo dan pasar turi yang mangkrak juga keteteran njawabnya. Paslon 2 unggul tipis atas paslon 1,” ujarnya.

Menurut dia, pemilih rasional kelas menengah urban mungkin cenderung ke paslon 2. “Tapi pemilih tradisional-emosional di kampung-kampung yang fanatik ke Risma akan tetap ke paslon 1,” imbuh mantan Ketua PWI Jatim ini. [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar