Politik Pemerintahan

Dari Sampah, Hemat Biaya Masak Rp 936 Ribu Per Tahun

Bojonegoro (beritajatim.com) – Bagi Harjo (50) warga Dusun Kalisari, RT 13 RW 04 Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, uang Rp 18 ribu sangat berarti. Uang tersebut dinilai cukup besar dengan hanya berpenghasilan dari warung sederhana miliknya yang menjual minuman dan gorengan.

Warung milik Harjo berada jauh dari akses jalan raya. Dia menggantungkan petani yang hendak ke sawah sebagai pelanggan. Selain itu juga dari petugas tenaga kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang bertugas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjarsari. Warungnya berada ditengah sawah yang berjarak sekitar 500 meter dari TPA.

Per minggu, paling tidak dia harus membeli dua tabung gas elpiji 3 kilogram untuk memenuhi kebutuhan memasak di rumah dan warung. Satu tabungnya dia membeli dengan harga Rp 18 ribu. Namun, sejak 2007 lalu, dia bisa menghemat biaya untuk membeli tabung gas elpiji. “Dulu memang seminggu sekali harus beli dua tabung gas untuk masak,” ujar Harjo, Rabu (14/8/2019).

Kondisi itu berubah semenjak sampah yang menumpuk di TPA diolah menjadi gas metana yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas elpiji. Pengelolaan sampah menjadi gas metana itu dilakukan sejak 2007 lalu. Selain bisa dimanfaatkan untuk gas, pengelolaan sampah menjadi gas metana juga bisa mengurangi bau.

Awal kali pengelolaan sampah itu hanya disalurkan untuk 20 rumah dan untuk operasional sendiri. Saat ini sudah bertambah menjadi 45 rumah yang sudah teraliri jaringan gas metana. Harjo merupakan salah seorang penerima manfaat dari pengelolaan energi baru terbarukan yang memanfaatkan sampah sebagai bahan dasarnya.

“Selama mendapat jaringan gas metana dari pengelolaan di TPA itu sekarang bisa lebih berhemat. Seminggu paling satu tabung gas elpiji 3 kilogram tidak habis buat memasak,” katanya.

Gas metana disalurkan kepada warga yang tinggal paling jauh berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pengelolaan sampah. Gas metana disalurkan secara gratis melalui jaringan pipa. “Dari mulai pasang saluran, sampai pemakaian gratis. Kompornya juga dari modifikasi kompor gas bekas yang sudah tidak terpakai. Karena kompor gas metana ini lobang untuk regulator lebih besar,” ujarnya.

Kualitas api yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut berwarna biru. Namun, untuk pemakaian masak sehari-hari panasnya lebih lama. Selain itu, lanjut Harjo, dari segi keamanan menurut dia lebih aman dan bisa mengurangi bau tumpukan sampah yang menyengat. “Kalau ada jaringan yang bocor langsung ditangani oleh petugas, karena baunya tidak enak,” terangnya.

Salah seorang petugas DLH Kabupaten Bojonegoro, Bidang Pengolahan Kompos, Mualim (45) mengatakan, pengelolaan sampah menjadi energi baru terbarukan itu merupakan program terobosan guna mengurangi bau yang menyengat dari sampah yang menumpuk di lahan seluas dua hektar. Selain itu, dengan dimanfaatkannya sampah menjadi energi gas metana ini bisa mengurangi dampak efek rumah kaca.

“Pengelolaan gas metana yang berasal dari pembusukan sampah itu dilakukan setelah adanya program sanitary landfill dari pemerintah,” ungkapnya.

Proses pembuatan gas metana itu dengan cara, sampah yang sudah menumpuk diratakan. Setelah itu ditanami pipa berukuran empat inci. Di TPA Banjarsari ada 25 titik pipa yang ditanam dengan kedalaman sekitar enam meter dari atas permukaan. Pipa yang sudah ditanam kemudian diurug menggunakan tanah. Pengurukan dilakukan agar proses pengomposan lebih cepat.

“Pipa-pipa berisi uap gas itu kemudian kita sedot menggunakan mesin blower. Baru kemudian kita salurkan ke rumah-rumah warga menggunakan pipa yang lebih kecil,” jelasnya.

Pengelolaan gas metana tersebut, kata pria berusia 45 tahun itu sangat mudah. Hanya saja untuk menjaga kelembaban tanah saat musim kemarau harus menggunakan air lindi. Air tersebut yang juga merupakan olahan sendiri dari sampah-sampah. Sisa air lindi sebelum mengalir ke sungai melalui proses pembersihan agar tidak mencemari lingkungan.

“Di TPA sekarang sudah tidak terlalu terlihat sampahnya. Karena setiap kali tumpukan sampah sudah setinggi satu meter langsung kita urug lagi,” ungkapnya.

Per hari berbagai sampah yang masuk ke TPA ada sebanyak 90 meter kubik. Selain dimanfaatkan sebagai gas metana, sampah-sampah tersebut juga diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, bensin (premium), maupun pupuk kompos. Hasil olahan sampah tersebut masih sebatas digunakan operasional oleh DLH sendiri.

“DLH Bojonegoro juga kerjasama dengan Dinas Pendidikan (Diknas) untuk media pembelajaran siswa di luar kelas tentang energi terbarukan,” ujar Kepala Bidang Persampahan, DLH Kabupaten Bojonegoro, Sholeh Fatoni.

Menurutnya, jaringan Gas Metana (pengelolaan gas dari sampah) ini belum berlaku selama 24 jam. Gas metana itu hanya disalurkan kepada warga dari jam 07.00 WIB sampai 16.00 WIB. “Karena kami belum memiliki petugas yang berjaga selama 24 jam, jaringan gas ini rawan terbakar,” ungkapnya.

Di Kabupaten Bojonegoro belum ada pengelolaan sampah metana selain di TPA. Pengelolaan energi terbarukan rata-rata yang dilakukan dari kotoran hewan. Sementara, tumpukan sampah yang tidak terkelola akan mudah terbakar dan merusak ozon jika sudah terlepas atau biasa disebut efek rumah kaca. Pengelolaan gas ini pada tahun 2016 mendapat penganugerahan sebagai Top 99 Inovasi Pelayanan Publik dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. [lus/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar