Politik Pemerintahan

Jejak Anarkisme di Indonesia (2-habis)

Dari Chaos Day Hingga Sabotase ATM

Jember (beritajatim.com) – Jim Donaghey dalam buku Punk and Anarchism: UK, Poland, Indonesia mengatakan, tanda-tanda kelahiran anarkisme di Indonesia sebenarnya sudah terlihat pada 1996.

Puluhan anak muda punk turun ke jalan pada tahun baru menghancurkan apa saja yang ditemui, termasuk mobil dan papan reklame. Mereka meniru Chaos Day atau Hari Huru-Hara di Jerman. Sebanyak 48 orang ditahan polisi dalam insiden ini.

Tak kapok, anak-anak punk merencanakan Chaos Day lagi pada 1997. Namun rezim Orde Baru sudah lebih siap dan mengancam akan menembak siapa saja yang berbuat kerusuhan. Anak-anak punk itu akhirnya membatalkan rencana tersebut.

Berakhirnya rezim Orde Baru membuka peluang para musisi dan penggemar punk untuk belajar lebih banyak soal anarkisme. Gerakan mereka juga mulai terang-terangan dengan membentuk Jaringan Anti Fasis Nusantara. Di Bandung, komunitas Keras Kepala melakukan aksi vandalisme dengan mencoret-coret dinding kota.

Namun gerakan punk-anarko di Indonesia tak hanya bicara soal vandalisme dan musik. Mereka juga mengorganisasi kampanye gerakan sosial internasional seperti Food Not Bombs dan melakukan edukasi sosial-politik di antara kalangan penggemar musik punk. Robert Winter dalam artikel ‘Doing Liberation’ mengakui Food Not Bombs di Indonesia mengikatkan punk dengan anarkisme lebih kuat daripada tempat lain di seluruh dunia.

Pelan-pelan ideologisasi anarkisme dalam musik punk di Indonesia semakin kuat, dan interpretasi terhadap anarki dan anarkisme pun menjadi arbitrer atau semaunya. Donaghey mengatakan, band bernama Total Anarki menginterpretasikan anarki sebagai kekerasan dan kekacauan. Mereka sama sekali tak terhubung dengan anarkisme dan menggunakan kata anarki karena menyukainya saja. Apapun yang mereka benci, dianggap sebagai anarki.

Kendati tidak pernah muncul menjadi arus utama gerakan dan ideologi di Indonesia, anarkisme seringkali muncul dalam gerakan-gerakan advokasi rakyat yang bersengketa dengan negara. Kelompok Unrest Collective memproduksi fanzine yang menjabarkan penambangan biji besi di Kulon Progo, Yogyakarta, dan ikut serta dalam perjuangan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP).

Di Bandung, sekelompok punk-anarko menyabotase sebuah anjungan tunai mandiri (ATM) dengan petasan dan menyatakan dukungan untuk PPLP. Mereka menuntut pembebasan Tukijo, aktivis PPLP yang ditahan polisi. Salah satu pelaku sabotase ini divonis tiga tahun penjara.

Di Jakarta, punk-anarko menempelkan poster-poster propaganda yang mengecam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menaikkan harga bahan bakar minyak. Mereka juga memproduksi stiker yang menyerang neoliberalisme.

Saat ini, ideologi ini kembali muncul di media massa, menyusul penangkapan sejumlah anak muda di sejumlah kota. Mereka dicurigai hendak melakukan kekacauan di tengah pandemi Covid-19. Namun sejauh ini belum ada kekerasan serius yang diletuskan penganut ideologi ini sebagaimana tahun 1996. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar