Politik Pemerintahan

Chrisman: Jalan Satu-satunya adalah Revolusi Kebudayaan

Surabaya (beritajatim.com) – Untuk mengatasi problem kebangsaan, jalan satu-satunya yang bisa ditempuh adalah revolusi kebudayaan. Jalan ini mengacu kepada semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928.

Solusi kebangsaan itu dilontarkan oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya Chrisman Hadi saat mengisi acara dialog bertema ‘Sumpah Pemuda Dilihat dari Perspektif Seni Budaya’. Dialog digelar di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (12/10/2019).

Dijelaskan oleh Chrisman, Indonesia sekarang ini tengah dilanda krisis kebangsaan. Banyak terjadi silang pendapat hanya karena problem sepele, misalnya perbedaan pilihan politik.

“Ini sangat menyita energi kita. Kita tanpa sadar terjebak pertarungan yang dangkal. Perbedaan politik membuat kita lupa bahwa kita sama-sama Bangsa Indonesia,” ujar Chrisman.

Salah satu kandidat Calon Wali Kota Surabaya ini lantas mengajak untuk kembali menggali spirit Sumpah Pemuda. Bahwa, ketika Sumpah Pemuda diikrarkan, situasinya tidak terlalu jauh berbeda.

“Ketika itu, orang Sumatera berkumpul dengan orang Sumatera. Orang Jawa dengan orang Jawa. Madura dengan Madura. Tidak ada yang mewakili sebagai Bangsa Indonesia,” paparnya.

Berpijak dari situasi kesukuan, Sumpah Pemuda menyadarkan pada semua pihak. Indonesia adalah satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

“Spirit itu yang harus kita tumbuhkan sekarang. Adapun jalan yang ditempuh, satu-satunya adalah jalan kebudayaan,” tandas Chrisman.

Selain Chrisman, diskusi yang digagas oleh DKS dan Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) Perjuangan ini menghadirkan dua narasumber lain, yaitu Seno Bagaskoro dan Agnes Santoso. Diskusi dipandu oleh Ketua DK Jatim Luhur Kayungga. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar