Politik Pemerintahan

Cegah Abrasi, Pantai di Banyuwangi Ini Ditanami Seribu Cemara

Banyuwangi (beritajatim.com) – Abrasi laut di Pantai Rejo atau yang terkenal dengan sebutan Pantai Cemara ini semakin mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2020, panjang pantai yang terkikis air laut mencapai 700 meter. Ribuan pohon cemara pun ikut hanyut.

Kondisi inilah yang membuat sejumlah pihak ikut tergerak. Paling baru, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen Perhubungan Laut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi, dan Pangkalan TNI Angkatan Laut, Banyuwangi ikut andil dalam pemulihan alam di wilayah ini.

Setidaknya ada seribu bibit pohon cemara ditanam. Tujuannya, mengurangi abrasi kian meluas. “Hari ini kita tanam sebanyak kurang lebih seribu bibit cemara di Pantai Cemara ini. Tujuannya untuk melestarikan lingkungan,” kata Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen Perhubungan Laut, dr. Heni Agus Purnomo, Jumat (15/1/2021).

Selain penanaman cemara, mereka juga merilis sejumlah bayi penyu ke laut. Karena selain menyuguhkan pesona alam, salah satu destinasi wisata di pinggiran Kota Banyuwangi ini juga sebagai tempat penangkaran penyu. “Ini ada beberapa yang tadi kita lepas. Di sini sekarang tidak banyak, karena tempat penangkaran penyu juga ikut terdampak abrasi,” terangnya.

Lebin jauh, Ketua Pokmaswas Pantai Rejo, Muhamad Muhyi menjelaskan, abrasi laut dampaknya cukup besar. Tidak hanya bagi keberlangsungan alam, tetapi juga berpengaruh pada pesona destinasi wisata di tempat ini. “Abrasi itu pertama kali terjadi pada 5 Mei 2020, sampai saat ini terus berlanjut dan semakin mengikis pantai di sini,” katanya.

Ia menyebut, luas lahan yang tergerus sepanjang 700 meter dengan lebar 60 meter dari bibir pantai. Ada ribuan pohon cemara yang hanyut dan hilang disapu ombak. Selain itu, tempat penangkaran penyu semi alami yang berdiri di pinggir pantai juga ikut hancur.

“Dari data sudah ada sekitar 1200 pohon cemara yang tergerus sepanjang tahun kemarin hingga hari ini. Dampaknya sangat dirasakan, karena tidak hanya merusak ekosistem alam, tetapi juga mengurangi pendapatan kami. Karena selain menjadi pelaku wisata, kami ini juga nelayan. Saat gelombang pasang itu ada beberapa perahu nelayan yang hilang juga,” katanya.

Hingga kini, pihaknya terus berupaya mengembalikan kelestarian alam di daerahnya. Tujuannya, alam kembali asri, wisata kembali bergeliat. “Masa pandemi memang sangat dirasakan bagi kita ini, wisatawan berkurang. Apalagi abrasi juga membawa dampak begini,” pungkasnya. (rin/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar