Politik Pemerintahan

Cawabup Ifan Ariadna: Nasib GTT-PTT Tidak Seindah Pernyataan Petahana

Jember (beritajatim.com) – Nasib dan kesejahteraan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) juga dipertanyakan calon bupati Abdus Salam dan calon wakil bupati Ifan Ariadna kepada calon bupati petahana Faida.

Pertanyaan dilontarkan dalam debat publik putaran ketiga Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur, di Surabaya, Selasa (1/12/2020) malam. “Mereka hanya membutuhkan SK (Surat Keputusan). Namun sampai akhir pemerintahan Ibu, mereka masih menuntut hal yang sama. Sepertinya mereka terbengkalai selama hampir lima tahun,” kata Ifan.

Menanggapi itu, Faida menyatakan taat aturan. “Masalah GTT-PTT adalah masalah bertahun-tahun di Kabupaten Jember,” katanya.

Menurut Faida, sudah ada surat edaran dari pemerintah pusat bahwa bupati tidak boleh memberi surat keputusan dan mengangkat tenaga honorer. Dia mengaku sudah berkonsultasi secara tertulis dengan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kementerian Pendidikan. “Kami juga mendapatkan jawaban tertulis tentang hal tersebut yang menjadi panduan dalam kami bekerja,” katanya.

“Kami mengeluarkan SP (Surat Penugasan) untuk satu kepastian bahwa mereka bisa ditempatkan yang formasinya memang kosong dan tidak ada PNS-nya. Kami menata mereka agar dekat dengan rumah tinggalnya,” kata Faida.

Saat ini Faida membuka peluang sangat besar untuk GTT-PTT. “Karena pada 2021, formasi untuk tenaga guru pendidikan hanya kami buka untuk formasi dari jalur honorer saja. Hanya di masa Faida dan Muqiet (Wakil Bupati Abdul Muqir Arief), GTT mendapatkan BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja. Hanya di masa Faida dan Muqiet, GTT-PTT mendapatkan THR. Hanya di masa kami, mereka mendapatkan status formasi yang kosong sesuai tugasnya,” katanya.

“Dan jangan lupa, ratusan GTT-PTT mendapatkan beasiswa agar mereka memenuhi kompetensi standarnya. Ini adalah komitmen, bukan hanya bicara,” kata Faida.

Menanggapi itu, Ifan berpendapat sebaliknya. “Jika apa yang dikatakan Bu Faida seindah di lapangan dan seindah apa yang terjadi pada nasib GTT-PTT, kemungkinan GTT dan PTT tidak akan melakukan protes dan demo. Dan ini tidak sejalan dengan apa yang diceritakan tadi,” kata Ifan.

“Di sini, kita banyak menemui di lapangan, banyak penempatan guru yang jauh dari rumahnya. Tidak sesuai dengan yang dikatakan Ibu tadi. Saya pernah berjalan ke Desa Panduman, di Jember utara. Di sana penataan fasilitas pendidikannya yang sebenarnya itu merupakan hak warga Jember, seperti terabaikan,” kata Ifan.

“Ada 150 siswa di sekolah dasar, yang sangat jadi ironi, gurunya hanya tiga. Dan salah satu gurunya, kalau tidak salah kepala sekolahnya, rumahnya di Jember selatan. Naik motor tiap hari. Itu bisa dibayangkan. Sementara itu di sisi siswa, ada yang namanya kelas 6 SD belum bisa lancar baca dan tulis,” kata Ifan.

Faida mengatakan, persoalan utama di Jember adalah perbaikan data. “Dengan perbaikan data, akhirnya terkuak masalah-masalahnya. Banyak sekali formasi kosong yang tidak ada orangnya, dan ada orang yang bertugas di formasi yang ada orangnya (sudah terisi, red). Oleh karenanya, untuk bisa mendapatkan surat penugasan, mereka ditempatkan di tempat yang masih memungkinkan mereka mendapatkan formasi tersebut, agar surat penugasan yang dikeluarkan sesuai ketentuan,” katanya.

‘Mereka yang bertugas di pemerintahan harus siap ditugaskan di mana pun berada, di seluruh pelosok negeri. Itu satu komitmen petugas kita,” kata Faida.

“Kami memang juga menemui, tenaga yang menggantikan petugas-petugas PNS justru digantikan oleh GTT. Memang fakta-fakta itu ada di lapangan. Perlu proses dalam penyelesaiannya. Kali ini proses itu berjalan sangat jauh sekali. Kunci penyelesaiannya, mereka kita bantu menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) atau CPNS sesuai prosedur yang ada, yang sah, diatur dalam pemerintahan,” kata Faida. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar