Politik Pemerintahan

Debat Publik Putaran II Pilkada Jember 2020

Cawabup Firjaun Barlaman Usul Sempurnakan Kriteria Kemiskinan

Jember (beritajatim.com) – Pasangan calon bupati Hendy Siswanto dan calon wakil bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman akan memverifikasi warga miskin yang berhak menerima bantuan perbaikan rumah tidak layak huni di Kabupaten Jember, Jawa Timur, jika terpilih dalam pemilihan kepala daerah tahun ini.

“Jadi tidak sampai salah sasaran. Bantuan untuk orang miskin, pengangguran, petani, nelayan adalah kewajiban kita semua. Sesuai dengan slogan kami ‘Wis Wayahe Mbenahi Jember’, itu arti katanya adalah mengembalikan hak masyarakat Jember,” kata Hendy, dalam debat calon bupati dan wakil bupati Jember putaran kedua, di Studio JTV, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/11/2020) malam.

Firjaun memandang perlunya mencari akar masalah kemiskinan. “Bagaimana justru untuk mengentas kemiskinan. Jadi tidak hanya sekadar merenovasi rumah tidak layak huni tapi kemiskinan tetap dialami mereka,” katanya.

Hal terpenting, menurut Firjaun, adalah usaha untuk menimgkatkan perekonomian masyarakat miskin. Akselerasi menjadi konsep kunci. “Kalau memang anggaran cukup dan sistem punya, bantuan dari APBD, APBD provinsi, dan APBN, tidak ada salahnya kita berikan bantuan kepada masyarakat miskin dan pengangguran,” kata Hendy.

Dwi Arya Nugraha Oktavianto, calon wakil bupati yang mendampingi calon bupati Faida, juga berpendapat bahwa pembuatan program harus berdasarkan data dan setelah menerjunkan tim ke lapangan. Tim ini menilai kelayakan warga untuk memperoleh bantuan. “Tentunya atas dasar verifikasi itulah, kita langsung berikan bantuan sesuai budget dan alokasi yang kita inginkan,” katanya.

Calon bupati Faida mengatakan, bantuan rumah tidak layak huni bukan bagi-bagi program. “Rumah tidak layak huni ada kriterianya. Kita tidak bisa pilih-pilih, karena jelas lantainya tanah, dindingnya gedheg, dan itu jelas, semua orang bisa menyaksikan, dan tanahnya harus milik sendiri bukan sewa, dan dia harus penduduk Jember, karena yang kita gunakan APBD Jember,” katanya.

Firjaun mengatakan, kriteria warga miskin perlu direvisi dan disempurnakan dengan tak hanya melihat aspek fisik. “Tidak mesti orang yang rumahnya berlantaikan tanah dan dinding dari bambu mesti miskin. Kadang ada orang seperti itu, tapi punya lahan sawah banyak, punya ternak banyak. Apakah orang seperti ini dianggap tidak mampu? Apakah kemudian ini tepat sasaran?” [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar