Politik Pemerintahan

Cawabup Alif Ajak Milenial Gresik Garap Pertanian Berbasis Teknologi

Calon Wakil Bupati (Cawabup) Gresik, dr Asluchul Alif

Gresik (beritajatim.com) – Calon Wakil Bupati (Cawabup) Gresik, dr Asluchul Alif mengajak para milenial menggarap pertanian berbasis teknologi. Alasan dipilihnya sektor pertanian karena sektor ini menjadi sektor prioritas setelah pendidikan, dan kesehatan.

Menurut Alif melalui program berupa ‘Kartu Petani Bangkit dan Smart City Desa’. Program ini diharapkan bisa memonitor satu dashboard smart city di desa maupun sektor lainnya.

“Semua biar merata dan termonitor, di satu dashboard Gresik Smart City di Desa, baik itu nanti desa yang mendapatkan bantuan bisa termonitor di Smart City, dan tidak orang- orang itu saja, tapi merata,” ujarnya, Minggu (25/10/2020).

Dijelaskan Alif, saat ini luas lahan pertanian pangan di Kabupaten Gresik  mencapai 67.900 hektar. Nantinya, para petani akan mendapat kartu Petani Bangkit yang di dalamnya terdapat sistem penyaluran bantuan bibit padi, jagung, dan kedelai. Juga bantuan pupuk serta traktor dan Alsintan (Alat-alat mesin pertanian).

Dengan program Petani Bangkit ini, kami akan membuat kebijakan perluasan lahan pertanian sehingga produksi beras di Gresik bisa ditingkatkan. Saat ini produksi padi di Kabupaten Gresik mencapai 420 ribu ton. Bila diasumsikan rendemen mencapai 60 persen, total produksi beras dari seluruh lahan pertanian di Gresik mencapai 252 ribu ton.

“Lahan pertanian yang ada luasnya mencapai 67.900 hektar. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 67.197 hektar. Tak hanya di sektor tanaman pangan, produksi perkebunan maupun hortikultura juga terus mengalami tren positif. Mulai dari jagung, kacang tanah, kedelai, dan sejumlah komoditas lainnya,” paparnya.

Dengan mengajak anak-anak muda di Gresik lanjut Alif, diharapkan sektor pertanian bisa digarap maksimal menggunakan teknologi tepat guna berbasis sistem. “Jika dulu menggarap sawah dengan membajak pakai sapi, memanen secara manual. Kini dengan teknologi yang kami tawarkan melalui konsep smart city, pertanian bisa dikerjakan secara modern,” ungkapnya.

Selain membantu produksi pangan, gerakan anak muda atau milenial menggarap sektor pertanian bisa dikombinasikan dengan pengembanan pariwisata. Saat ini sedang tren kafe berada di tengah sawah, sangat instagramble dan mendatangkan nilai ekonomis cukup bagus.

“Nanti anak anak muda akan menggarap sawah. Nah melalui kemasan milenial, proses penggarapan sawah dijadikan obyek wisata. Dibangunan infrastruktur yang unik, didirikan warung atau kafe, sehingga pengunjung bisa menyaksikan secara langsung oleh wisatawan yang datang,” tandasnya. (dny/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar