Politik Pemerintahan

Caleg Dapat Kursi di Parlemen, Begini Cara Menghitungnya

Ponorogo (beritajatim.com) – Pemilu serentak 2019 telah dilalui. Kini publik bertanya-tanya, apakah wakilnya yang dicoblos pada tanggal 17 April lalu bersama pilihan presiden wakil presiden, lolos ke parlemen, baik itu ditingkat DPR RI, DPR Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Diketahui untuk penghitungan pembagian  kursi di parlemen pada pemilu 2019 ini beda dengan pileg 2014. Penghitungan menggunakan bilangan pembagi pemilih (BPP) sudah tidak lagi dipergunakan. Saat ini untuk pileg mulai diterapkan metode hitung yang disebut Sainte Lague.

‘’Sekarang sudah tidak lagi menggunakan kuota hare. Suara yang diperoleh partai akan dibagi secara berurutan dengan bilangan ganjil 1, 3, 5, 7,’’ kata Komisioner Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Arwan Hamidi, Sabtu (27/4/2019)

Arwan panggilan Arwan Hamidi menjelaskan bahwa metode tersebut berasal dari nama si penemunya. Yakni, matematikawan asal Prancis Andre Sainte Lague. Sebelumnya, konversi suara menjadi kursi menggunakan metode kuota hare yang dihitung menggunakan BPP.  Karena metode penghitungan baru diterapkan kali ini, Arwan pun tak menampik jika masih banyak yang belum  paham mengenai sainte lague ini.

”Dasar hukum metode ini sudah diakomodir dalam Undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu), dan kemudian diperbarui di Undang-undang nomor 7 tahun 2019,” jelasnya.

Arwan menyebut untuk menentukan kursi pertama, seluruh partai dibagi dengan bilangan 1. Contohnya partai A sudah mendapat kursi pertama, untuk kursi keduanya, dibagi bilangan 3. Bila partai B, C, atau D sudah mendapat kursi pertama, maka selanjutnya juga dibagi lagi menggunakan bilangan ganjil, sama seperti partai A.

‘’Hasil di setiap pembagian itu, yang angkanya tertinggi, berhak mendapat kursi,’’ katanya.

Meski tampak ribet, Arwan menyebut jika akan ada alat bantu penghitungan secara elektronik. Dengan demikian, dapat memudahkan penghitungan. Meski begitu, tidak akan mengurangi validitas hasil konversi suara menjadi kursi.

”Karena masih ada quality control langsung dari penghitungan manual oleh manusia melalui pleno,’’ pungkasnya.[end/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar