Politik Pemerintahan

Cak Nur Pasti ‘Gregetan’ Lihat HMI Sekarang

Jember (beritajatim.com) – Kritik keras dilontarkan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam oleh Moch. Eksan, salah satu alumnus organisasi itu yang sekarang menjabat Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Jawa Timur.

“Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, setelah berpulang ke rahmatullah, pasti ‘gregetan’ melihat HMI semakin jauh dari proyek pembaruan pemikiran Islam,” kata Eksan mengomentari organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia yang hari ini berusia 74 tahun, Jumat (5/2/2021).

Menurut Eksan, di bawah bayang-bayang ancaman radikalisme takfiri, khilafah Islamiyah dan aksi intoleransi, HMI justru kehilangan prakarsa intelektual untuk menyegarkan kembali pemikiran umat yang kian membeku dan membatu. “HMI juga terbawa arus dalam centang peranang konflik Islam versus negara, dan pertikaian umat versus pemerintah,” katanya.

Padahal, lanjut Eksan, Cak Nur telah mendamaikan konflik dan pertikaian tersebut dengan mengembangkan wacana ‘Islam Yes, Partai Islam No’, ‘Tidak Ada Negara Islam’, dan ‘Masyarakat Religius dan Indonesia Kita’.

“Cak Nur telah meletakkan api Islam dalam normativitas dan historisitas umat dan bangsa. Api Islam tersebut berbeda dengan Islam Nusantara NU atau Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Sebuah faham dan amaliah yang menginginkan pembaruan pemikiran Islam menjadi inti dari pembaruan pemikiran keindonesiaan,” kata Eksan.

Mirisnya, lanjut Eksan, khazanah intelektual Islam Cak Nur bagaikan api lilin yang menerangi jalan Islam Indonesia sekaligus membakar diri sendiri. “Ini lantaran HMI terjebak dalam konflik politik internal, energi kader habis untuk berebut kekuasaan, dan terseret ortodoksi Islam,” katanya.

“Sudah lama HMI tak lagi menjadi episentrum pembaruan pemikiran Islam sepeninggal Cak Nur. Yang semarak justru, banyak kader yang terkebak euforia Islam Timur Tengah yang syiistik, ikhwanistik, tahriristik, salafistik, tabligistik, dan bahkan jihadistik,” tambah Eksan.

Eksan menilai, semua euforia tersebut dikarenakan HMI tercerabut dari akar cita perjuangan sebagai gerakan pembaharuan pemikiran Islam. “Konsekuensi logisnya, banyak kader yang mengkaji NDP (Nilai Dasar Perjuangan) hanya bisa menangkap ‘asap’ dan belum menangkap ‘api’ pembaruan pemikiran Islam Cak Nur,” katanya.

Di dalam NDP, terdapat tujuh tema besar. “Pertama, dasar kepercayaan. Kedua, pengertian kemanusiaan. Ketiga, kemerdekaan manusia (ikhtiar) dan keharusan universal (takdir). Keempat, ketuhanan dan prikemanusiaan. Kelima, individu dan masyarakat. Keenam, keadilan sosial dan keadilan ekonomi. Ketujuh, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan,” kata Eksan. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar