Politik Pemerintahan

Bupati Jember: Saya Berdiskusi dengan Pak Anies Baswedan

Bupati Hendy Siswanto [foto: Humas Unej]

Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto mengaku berdiskusi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menjalin kerjasama dengan Kabupaten Jember, Jawa Timur, di sektor produksi pertanian. Terkendala data dan lokasi produksi pascapanen di lapangan.

“Terus terang Pak Anies Baswedan ini teman dekat kami. Sudah lama kami bersahabat dengan beliau. Sudah sepuluh tahun lebih. Ini mau diajak bekerjasama. Bingung tapi masih. Bekerjasama tentang hasil bumi kita,” kata Hendy, dalam rapat tingkat tinggi Tim Pengendali Inflasi Daerah Jember, di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat (23/4/2021) sore.

DKI Jakarta menjalin nota kesepahaman dengan beberapa daerah. “Dengan Jember saya takut. MOU menyiapkan sekian ton setiap bulan, kita tanya mana barangnya? Tidak ada. Di mana lokasi penumpukannya? Ini kunci kita,” kata Hendy.

Hendy mengaku butuh informasi soal jumlah sesungguhnya dan lokasi penyimpanan atau penempatan produksi pertanian pascapanen, terutama beras, di Jember. Selama ini ia merasa hanya Bulog yang menyediakan informasi jelas soal jumlah dan lokasi penyimpanan beras.

Hendy siap membentuk tim untuk menginventarisasi produksi tersebut. “Setiap lokasi (penyimpanan) akan saya beri (tugaskan) staf untuk menginventarisasi berapa barang yang kita miliki. Sehingga saya sebagai bupati bisa membantu menjualkan, membantu mempromosikan. Bagaimana saya ngomong ‘kami punya beras banyak’, (lalu ditanya) mana barangnya. Promosi macam apa ini. Ini kondisi riil kami,” katanya.

Hendy sangat berharap informasi tentang kemampuan daerah bisa didokumentasi dengan tepat. “Kalau bisa didokumentasikan dengan tepat, kami akan framing untuk bisa kami promosikan di luar untuk mendapatkan harga yang bagus sehingga petani kami bisa mendapatkan nilai yang lebih baik,” katanya.

Data produksi pertanian pascapanen juga akan membantu mengendalikan harga saat Idul Fitri. Dengan adanya data itu, diketahui volume beras di semua pasar di Jember. Ini berpengaruh pada operasi pasar murah.

“Saya punya Dinas Pertanian. Ditanya berapa berasnya dan di mana, bingung menjawabnya. Katanya mengendalikan tembakau. Ditanya tembakaunya berapa, tidak tahu. Begitu tahu angkanya, ditanya letaknya, tidak tahu juga. Mau kapan maju? Kalau kita mau digitalisasi, digitalisasi macam apa kalau tidak punya data,” kata Hendy. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar