Politik Pemerintahan

Bupati Jember Larang Kritik Kinerja Survei Tahun 2011, Ketua RW dan RT Kecewa

Jember (beritajatim.com) – Beberapa ketua rukun warga dan rukun tetangga di Lingkungan Pattimura, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, kecewa dengan pernyataan Bupati Faida yang melarang kritik.

Larangan warga untuk mengkritik ini terlontar dan terekam video yang belakangan menjadi viral, Sabtu (23/5/2020). Video tersebut diambil di Pondok Pesantren Riyadus Solihin, Lingkungan Pattimura, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (23/5/2020) pagi. Saat itu, Bupati Faida tengah memberikan bantuan sembako dan uang untuk santri yang tidak pulang kampung.

Dalam video itu, Ketua RW 028 Agus Sumardiono menyampaikan adanya ketidakadilan dalam pembagian bantuan sosial untuk warga miskin. Namun, respons Bupati Faida justru di luar dugaan warga. “Kita semua akan menghadapi berbagai macam masalah. Dilarang ngomeli pekerjaan orang lain, apakah itu pekerjaan surveyor tahun 2011 atau…,” kata Faida dalam video tersebut.

“Tapi apakah kritik itu bagian dari ngomel, Bu?” tanya Agus.

“Tidak boleh,” kata Faida.

“Mengkritik kinerja masa tidak boleh,” tanya Agus.

“Tidak boleh,” kata Faida lagi.

“Uh, payah kalau begitu, Bu” kata Agus.

Sebenarnya warga tak berniat untuk berdebat. Awalnya, Ketua RT 004 Fatmawati hanya melontarkan pertanyaan kepada Bupati Faida dengan baik-baik. “Bu, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan. Mumpung bupati memberikan bantuan sosial kepada anak-anak pondok yang tidak pulang, bagaimana dengan bantuan di tempat kami (untuk warga) yang tidak mendapatkan,” katanya menirukan pertanyaan saat itu.

Fatmawati berharap, karena Bupati Faida membawa sembako, bantuan bisa langsung diberikan kepada warga miskin yang belum memperolehnya. “Dia langsung datang ke rumah warga yang belum dapat. Terus dia ngasih jawaban yang ‘wow’ gitu. Jadi kami kaget. Kok jawabannya menyimpang,’ kata Ketua RT 04 Fatmawati.

Apa yang dimaksud ‘wow’?” “Ya karena dilarang mengkritik dan dilarang mengomel,” kata Fatmawati.

Bupati Faida melarang warga menyalahkan survei yang dilakukan pada tahun 2011. Namun, Fatmawati mengaku tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia hanya berharap sembako yang dibawa Bupati Faida juga bisa diberikan kepada warga miskin yang belum terdata.

Fatmawati juga bermaksud hendak menanyakan bantuan warga yang belum terealisasi. Namun, ia belum sempat menyampaikan, karena Bupati Faida sudah melarang warga mengkritik kinerja pendataan bantuan sosial.

Agus menambahkan, ada 40 persen bantuan di RW 028 yang tak tepat sasaran. Ada warga yang mampu secara ekonomi tetap mendapat bantuan sosial tunai. “Ini yang menyulut rasa keadilan masyarakat. RT dan RW tidak dilibatkan dalam pendataan. Tiba-tiba data muncul disodori nama warga yang dapat bantuan. Di sini dilemanya. “Tiba-tiba muncul nama dan ini yang akan dibagikan ke warga Anda. Kami kan bingung,” katanya.

Agus kecewa dengan respons Bupati Faida. “Kurang pas, ketika ada rakyat mencurahkan isi hati, berkeluh kesah, dan memberikan masukan, jawaban pimpinan seperti itu. Seharusnya, pemimpin menerima masukan dan kritik dari masyarakat. Apalagi kritik bersifat membangun. Ibu RT ini kan membantu pemerintah, memberikan informasi bahwa ada masyarakat yang luput dari pendataan,” katanya.

Ketua Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Gatot Triyono tidak berkomentar soal video itu. “Saya belum tahu,” katanya. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar