Politik Pemerintahan

Bupati Anas: Era Pencitraan Pemimpin Sudah Berakhir

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. [Foto/Rindi Suwito]

Jember (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kepemimpinan kepala daerah saat ini lebih mudah dikontrol oleh rakyat. Rakyat bisa mengakses informasi untuk melakukan cek silang dengan fakta hasil pembangunan di daerah.

Anas mengatakan, era saat ini sangat terbuka. “Era pencitraan pemimpin sudah berakhir. Saya jadi bupati, kalau promosi wisata di medsos bagus, tapi begitu orang datang ternyata (faktanya) jelek, kick back-nya akan sakit kepada saya,” katanya, dalam diskusi mengenai pemilihan kepala daerah di Gedung Sutardjo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (7/3/2020).

Saat ini data capaian pembangunan sudah bisa diakses publik melalui internet. “Dari sini, di daerah punya ruang yang sangat luas, rakyat mengontrol, sekaligus di satu sisi pemimpin bekerja secara nyata,” kata Anas.

Anas mengatakan, seorang pemimpin daerah perlu memiliki skala prioritas. “Dulu saya lihat handicap Banyuwangi adalah kemiskinan yang tinggi. Salah satunya karena 40 persen adalah hutan dan perkebunan. Sepanjang garis pantai 174 kilometer itu adalah handicap kemiskinan. Gubernur kalau mempresentasikan kemiskinan selalu ada Banyuwangi di situ,” katanya.

“Saya melihat ini handicap, tapi kemudian saya jadikan opportunity. Saya kemudian mengambil skala pariwisata, dan kemudian kami ambil skala prioritas infrastruktur dan sumber daya manusia,” kata Anas. Pada 2014, Pemkab Banyuwangi membangun jalan dan jembatan, serta 1.400 titik wi-fi gratis. Bandara pun direvitalisasi.

Anas kemudian melarang pasar modern tumbuh di Banyuwangi dan memperkuat pasar tradisional. “Saya tidak izinkan mall, karena mall itu lifestyle. Pajaknya disedot ke Jakarta, rakyat tidak menerima pajak. Dulu income per kapita Banyuwangi di bawah Jember, Malang, dan lain-lain. Malang Rp 37 juta, Jember Rp 29 juta, Banyuwangi Rp 48,48 juta. Jadi kita mesti fokus, janji kepada rakyat mesti dipenuhi,” jelasnya. Peta kontribusi ekonomi Banyuwangi terhadap Jatim pun mencapai 3,51 persen mengalahkan Jember yang berkontribusi 3,32 persen.

Kuncinya ada pada birokrasi. “Tidak ada artinya pemimpin yang hebat, kalau birokrasi yang melayani tidak terbentuk. Birokrasi yang tereformasi menjadi kunci, karena birokrasilah yang akan memberikan layanan, menerjemahkan visi-misi bupati. Sehebat apapun bupati, kalau birokrasinya tidak mendukung tidak bisa,” kata Anas. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar