Politik Pemerintahan

Bupati Anas Ajak Pesantren Berdakwah di Jagat Maya

Banyuwangi (beritajatim.com) – Perkembangan media sosial berdampak ke banyak hal. Tak terkecuali terhadap perilaku beragama. Banyak konten media sosial (medsos) yang menjadi rujukan bagi orang-orang yang ingin mengenal Islam. Fenomena tersebut, mendorong Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk mengajak sejumlah pesantren di Banyuwangi untuk turut berdakwah di medsos.

“Menurut hasil survei, saat ini yang menjadi ulama panutan yang menjadi favorit bukanlah kiai-kiai pesantren, seperti KH. Maimoen Zubair atau KH. Mustofa Bisri. Beliau, beliau, ada di posisi belasan. Justru yang terfavorit adalah ustaz yang kerap muncul di media sosial,” ujar Anas saat berkunjung ke Pesantren Rabithatul Islam, Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Rabu (15/5/2019).

Untuk itu, Anas mengharapkan sejumlah kiai atau pun para cendekiawan di sejumlah pesantren di Banyuwangi turut aktif dalam berdakwah di jagad maya tersebut. Narasi keagamaan yang berkembang di medsos didominasi model beragama yang puritan. Hal ini perlu diimbangi dengan konten keagamaan yang lebih moderat.

“Corak keberagamaan di pesantren yang lebih moderat dan santun perlu disebarluaskan di medsos. Generasi milenial yang sedang tumbuh gairah keberagamaannya, harus dikenalkan dengan narasi yang demikian. Bukan seperti saat ini yang cenderung keras dan puritan,” terang Anas.

Pada kunjungan ke sejumlah pesantren tersebut, Anas juga mengajak kepada semua pihak untuk turut menjaga dan mengawasi perilaku generasi muda. Di era yang serba digital seperti saat ini, menjadikan banyak bentuk kejahatan dan pelanggaran yang juga bersifat digital.

“Hanya lewat HP ini, sekarang anak-anak bisa melakukan apa saja. Termasuk juga kemaksiatan hingga kejahatan. Mulai kecanduan pornografi, judi online, prostitusi online dan lain sebagainya,” ungkap Anas.

Untuk itu, orang tua harus lebih peduli dengan aktivitas anak-anaknya. “Jangan hanya sekadar dibelikan HP terus selesai. Tapi, perhatikan apa yang dibrowsing anak-anak, yang didownload, yang diinstal di HP mereka. Orang tua harus tahu,” papar Anas.

Pengawasan terhadap anak yang demikian, tak cukup hanya dipasrahkan ke lembaga pendidikan. Tapi, tiga komponen harus saling menguatkan. Selain lembaga pendidikan, orang tua dan lingkungan juga harus berperan aktif.

“Saya kira, pesantren dan sekolah sudah cukup aktif melakukan pengawasan. Namun, jika orang tua dan lingkungan acuh tak acuh, pengawasan di pesantren dan sekolah akan percuma,” imbuhnya.

Pada hari ke-delapan Ramadan tersebut, Anas melakukan roadshow ke sejumlah pesantren di Banyuwangi. Pertama yang dituju adalah Pesantren Sunan Kalijaga di Desa Parijatah Wetan, Srono. Selain silaturahmi dengan sejumlah kiai, tokoh masyarakat dan santri, juga salat ashar berjamaah dan ziarah ke makam pendiri pesantren almarhum KH. Mahrus Ali.

Setelah itu dilanjutkan buka bersama di Pesantren Rabithatul Islam di Jenisari. Lanjut ke Pesantren Al-Mubarok, Sawahan, Genteng. Terakhir, bersilaturahmi ke Pesantren Ibnu Sina, Genteng. Hal ini sebagai bagian dari agenda safari Ramadan yang rutin dilakukan tiap tahun. [rin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar