Politik Pemerintahan

Mengenang Bung Karno (2)

Bung Karno Terobsesi Sosialisme Indonesia 

Jember (beritajatim.com) – Alam pikiran dan ideologi Soekarno banyak dipengaruhi oleh Marxisme. Sejak muda, ia sudah memusuhi kapitalisme yang dianggapnya sebagai bagian dari ideologi kerakusan Barat untuk mengeksploitasi Indonesia.

Pengejaran terhadap rente dan penumpukan modal di mata Soekarno hanya akan memunculkan eksploitasi manusia oleh manusia.

Suatu ketika, Soekarno menggantikan Tjokroaminoto berpidato di sebuah pertemuan kecil. Tema penghisapan terhadap Indonesia dimunculkannya dan membakar orang-orang yang hadir. “Penjajah hanya mau memetik hasilnya. Ya, mereka menyuburkan bumi kita ini. Betul! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menyuburkan bumi kita ini?… Bumi kita ini mereka suburkan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan dari rakyat kita yang mati karena kelaparan, kerja keras dan hanya tinggal tulang-belulang!”

Dalam pidato-pidatonya di dunia pergerakan, Soekarno menyebut ‘kapitalisme harus dilenyapkan’. Pernyataannya ini membuat pemerintah Belanda menganggapnya sebagai ancaman yang harus diwaspadai. Namun ia bersikukuh dengan pemikirannya. Negara-negara Barat, tentu saja, adalah personifikasi dari kapitalisme yang menindas. “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika,” demikian salah satu slogan Soekarno yang terkenal.

Soekarno menyebut revolusi perdagangan di Eropa sebagai pemicu imperialisme, bentuk lanjut kapitalisme yang menghancurkan negara-negara Dunia Ketiga seperti Indonesia. Ia membenci merkantilisme, yang dalam kajian ekonomi politik, merupakan persekutuan pemerintah Barat dengan para pedagang untuk menjadikan negara-negara nonbarat sebagai sumber bahan mentah sekaligus pasar.

“Kapitalisme ini tumbuh hingga ia mengenyangkan lapangan eksploitasi dalam masyarakat mereka sendiri. Barang-barang yang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; jadi Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk modal berlebih yang tidak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu membawa Liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu negara itu harus ditaklukkan. Pedagang-pedagang menjadi penakluk; bangsa-bangsa Asia-Afrika dijajah dan kelobaan ini,” kata Soekarno kepada Cindy Adams.

Presiden Soekarno (AFP)

Kebencian Soekarno terhadap kapitalisme dan imperialisme membuatnya enggan berhubungan dengan Barat dalam hal bantuan ekonomi semasa berkuasa. “Go to Hell with your aid,” menjadi salah satu petikan pidato Soekarno yang agitatif dan membakar semangat rakyat. Ia menekankan perlunya kemandirian bangsa, tidak tergantung kepada bangsa asing.

Dalam pidato Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Soekarno mengatakan tujuan jangka pendek pemerintahannya: “…melanjutkan perjuangan anti-imperialisme, ditambah dengan mempertahankan kepribadian kita di tengah-tengah tarikan-tarikan ke kanan dan ke kiri…”

Slogan yang paling tenar adalah berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Konsep ini sebenarnya, sedikit-banyak, dipengaruhi prinsip Tjokroaminoto yang ditelurkan dalam hasil kongres pertama Sarikat Islam, Juni 1916, yakni ‘menolong diri sendiri untuk mencapai status persamaan dengan bangsa-bangsa lain’.

“Ekonomi Indonesia yang selfsupporting (ingat Indonesia kaya raya di lapangan logam, hasil bumi, kekuatan alam, man-power),… itukah yang terlalu tinggi? Hidup kesosialan, hidup kekeluargaan, hidup makmur dan adil, hidup dengan tiada kemiskinan dan kecingkrangan (ingat, Indonesia dulu ‘gudangnya’ gotong royong, dan Indonesia dulu pernah dinamakan gemah ripah loh jinawi), itukah terlalu mengawang-awang? Saya kira tidak, dan beberapa bangsa lain pun ada yang bercita-cita demikian,” tegas Soekarno.

Soekarno menganjurkan kepada bangsa Indonesia untuk kembali kepada jiwa proklamasi, yakni jiwa merdeka, jiwa ikhlas, jiwa persatuan nasional, dan jiwa pembangunan. Ia percaya, dengan kembali kepada empat jiwa tadi dan menekankan diri kepada pembangunan, “maka kita bisa berjalan lagi dengan zevenmijlslaarzen di kaki kita, bisa beterbang lagi dengan kutang antakusuma di dada kita…”

“Bung Karno sangat terobsesi dengan sosialisme Indonesia,” kata Thee Kian Wie, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Dalam konsep Soekarno, ini berarti membuang jauh-jauh liberalisme ekonomi dan liberalisme politik. Gantinya adalah ekonomi terpimpin dan demokrasi terpimpin. Perusahaan-perusahaan milik pengusaha Belanda pun dinasionalisasi.

Konsep sosialisme Indonesia ini tak lepas dari ideologi Marhaenisme Soekarno. Marhaenisme terilhami dari nama seorang petani di Jawa Barat yang bernama Marhaen. Soekarno menyebut rakyat Indonesia sebagai ‘Rakyat Marhaen’.

“Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek,” kata Soekarno.

Tak aneh, jika kemudian salah satu konsep sosialisme Indonesia yang mencita-citakan rakyat mandiri adalah soal distribusi tanah. Tanah menjadi masalah krusial, karena kendati Indonesia merdeka, masih dikuasai oleh perusahaan perkebunan Belanda.

Tahun 1948, pemerintah mengeluarkan undang-undang darurat yang menetapkan agar tanah yang dikuasai 40 perusahaan gula Belanda di Jogjakarta dan Solo didistribusikan kepada petani miskin.

Tanggal 21 Mei 1948, Bung Karno membentuk Panitia Agraria. Mereka bertugas mengusulkan ke parlemen sebuah undang-undang agraria untuk menggantikan undang-undang warisan Belanda. UU Pokok Agraria dan konsep landreform ini belakangan di masa Orde Baru disebut undang-undang  prokomunis, kendati tak pernah dihapus oleh Rezim Soeharto. (wir/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar