Politik Pemerintahan

Bundaran Jetak Akan Dibangun dengan Pagu Anggaran Rp 360 Juta

Foto: Bundaran Jetak yang akan dibangun dengan anggaran Rp 360 juta

Bojonegoro (beritajatim.com) – Taman Bundaran Jetak memiliki ikon bola dunia yang dibawahnya terdapat air mancur. Merupakan akses perempatan menuju Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora jika ke arah barat, dan Kabupaten Nganjuk jika ke arah selatan. Sedangkan akses ke arah utara dan timur merupakan jalur ke kota Bojonegoro.

Kali terakhir, taman yang berada di barat kota itu direhab pada 2010 lalu. Taman Bundaran Jetak yang berada di Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro itu rencananya akan dibangun ulang dengan menggunakan APBD 2019 senilai Rp 360 juta. Sesuai dengan perencanaan, pembangunan taman itu akan dilakukan pada Agustus.

Namun di lokasi, belum ada proses pembangunan. Sesuai dengan data di LPSE Kabupaten Bojonegoro, jadwal yang tertera masih dalam proses tender. Pada 9 Agustus 2019, memasuki tahap evaluasi administrasi, kualifikasi, teknis, dan harga. Dalam proses tender ada 25 peserta lelang yang mengikuti.

“Kita masih menunggu hasil proses pengadaan dari UKPBJ/ULP,” ujar Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya, Welly Fitrama, Jumat (16/8/2019).

Rencana pembangunan yang akan dilakukan, dari ikon bola dunia akan diubah menjadi bunga kuncup yang akan mekar. Hal itu, kata Welly, merupakan sebuah penggambaran Kabupaten Bojonegoro dengan potensi yang dimiliki akan maju dalam segala bidang kehidupan masyarakat (seperti kuncup bunga yang akan mekar).

“Dalam pembangunannya memperhatikan atau berwawasan lingkungan, dimana didalamnya kuncup bunga itu ada juga akan dimasukkan unsur dari elemen-elemen Bojonegoro Produktif (Tagline Bojonegoro,red),” terangnya.

Salah seorang warga Kelurahan Jetak, Kabupaten Bojonegoro, Radinal mengatakan pembangunan taman bundaran Jetak yang dianggarkan Rp 360 juta itu seharusnya bisa melibatkan masyarakat setempat dalam proses pembangunannya. Seperti misal, kata dia, dalam hal pembuatan ikon yang akan dibangun.

“Keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan seharusnya bisa dilakukan dengan cara sayembara untuk menentukan ikon yang akan dibangun sesuai dengan semangat Bojonegoro saat ini,” ungkapnya. [lus/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar