Politik Pemerintahan

Bukan Birokrat, Jaringan Kampung Disebut Lebih Berpeluang Menangkan Pilwali Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat politik Edward Dewaruci menilai jika kondisi Pilwali Surabaya bakal memiliki sedikit perbedaan dibanding Pilpres lalu. Terlebih lagi, menurut Edward, ASN atau birokrat di lingkungan Pemkot Surabaya hanya sebagian kecil yang berKTP Kota Pahlawan.

“Pilpres lalu,tidak berdasarkan partai, tapi di relawan. Meski mesin utama ada di PDIP, dari gerakan dari partisipasi publik dan relawan yang besar kalau Pilpres. Kalau untuk pilwali, konstelasi bisa berubah,” kata Edward, Sabtu (15/6/2020).

“Ketika pilpres, birokrat merupakan normatif harus netral, tapi patron dari pimpinan Pemerintah Daerah akan mempengaruhi gerakan dari birokrat. Nah, ketika Pilwali, PNS Pemkot Surabaya sedikit yang rumahnya di Surabaya atau berKTP Surabaya,” tambah Edward.

Kondisi demikian, bagi Edward menjadikan bahwa kunci pemenangan Pilwali Surabaya berada di kekuatan jaringan. Terlebih lagi, jaringan perkampungan. “Jadi justru kalau mau turun ke bawah, justru lebih kuat yang bisa menguasai basis perkampungan. Jaringan yang punya sampai perkampungan lebih memiliki kemungkinan,” pungkas Edward. [ifw/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar