Politik Pemerintahan

BPBD Rangkul Korban PHK Kemas Sembako dan PKL untuk Order Nasbung!

Surabaya (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim tidak tinggal diam dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya selama 14 hari. BPBD turut aktif memberdayakan masyarakat korban PHK dan pedagang kaki lima (PKL) yang sepi karena terdampak PSBB, akibat pandemi Covid-19.

Di Surabaya, BPBD Jatim merangkul sebanyak 20 PKL penjual makanan yang diberdayakan melalui pemesanan nasi bungkus (nasbung). Para pedagang yang tersebar di 10 titik itu masing-masing dipesani nasi bungkus dengan harga Rp 15 ribu/bungkus sebanyak 50 bungkus.

Nasi bungkus yang total jumlahnya mencapai 1000 paket itu lalu didistribusikan kepada masyarakat terdampak Covid-19 saat buka puasa dan makan sahur di sejumlah titik.

Sejumlah titik PKL yang diberdayakan itu tersebar di antaranya berada di wilayah Pandegiling, Pagesangan, Wiyung, Rolak Wonokromo dan Rolak Sepanjang. Titik itu akan berpindah setiap hari.

Warsih, salah satu penjual makanan di sekitar Rolak Wonokromo mengaku sangat berterima kasih dengan langkah yang dilakukan Gubernur Jatim, melalui BPBD Jatim ini. “Matur nuwun Bu Gubernur. Dengan begini, jualan saya bisa laku,” ujar Warsih, PKL yang biasa mangkal di Rolak Wonokromo ini.

Selain PKL, upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat terdampak Covid-19 juga dilakukan BPBD Jatim terhadap warga korban PHK di Sidoarjo. Sedikitnya 20 warga korban PHK asal Sidoarjo kini dipekerjakan BPBD Jatim untuk pengemasan paket sembako yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak Covid-19.

Setiap harinya, mereka bekerja mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB di Tenda Posko Penanganan Dampak Covid-19 yang berada di halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Dari sekian warga yang dipekerjakan, mayoritasnya merupakan korban PHK atau pekerja harian yang telah kehilangan pendapatannya pasca pandemi Covid-19.

Hadi Iswoyo (50), pria dua anak ini mengaku sudah dua bulan terakhir tidak lagi bekerja, karena perusahaan yang diikutinya berhenti berproduksi. Hal itu juga menimpa istrinya yang bekerja di pabrik berbeda. “Kalau istri saya, baru tiga mingguan ini,” katanya.

Yang membuatnya bingung, selama ini ia bersama keluarganya masih ngekos di wilayah Buduran, Sidoarjo. “Nggeh pancen bingung, Mas. Nggak cuma bayar kos, untuk makan kami berempat setiap hari kan juga butuh uang,” keluhnya.

Lantaran itu, pria asal Magetan ini, kini merasa sangat bersyukur karena bisa mendapat tambahan penghasilan setelah bekerja harian di posko BPBD Jatim.

“Kalau saya dulu kerjanya serabutan, Mas. Sekarang ya mandek total. Tapi sekarang lumayan ada pemasukan dari sini,” tutur Hardiyo (45), warga Candi, Sidoarjo yang juga ikut dipekerjakan di Posko Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Sementara itu, Kalaksa BPBD Jatim, Suban Wahyudiono mengatakan, apa yang dilakukan pihaknya ini merupakan perwujudan dari instruksi Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa tentang penanganan masyarakat terdampak Covid-19. “Seperti yang disampaikan Ibu Gubernur, bahwa kita harus pro aktif melakukan kegiatan yang bisa membantu meringankan beban masyarakat terdampak. Apalagi saat ini PSBB sudah diberlakukan,” ujarnya.

Rencananya, upaya pemberdayaan masyarakat terdampak Covid-19 ini akan terus dilakukan selama pemberlakuan PSBB. “Semoga pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir,” pungkasnya penuh harap. (tok/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar