Politik Pemerintahan

Bongkar Muat Batubara GJT Beroperasi Lagi, Ribuan Warga Unjuk Rasa ke DPRD Gresik

Gresik (beritajatim.com)– Imbas beroperasinya bongkar muat batubara di PT Gresik Jasa Tama (GJT) menyebabkan ribuan warga turun ke jalan melakukan unjuk rasa ke Gedung DPRD Gresik, Selasa (18/08/2020).
Warga yang berasal dari tiga kelurahan. Yakni, Kelurahan Kemuteran, Kroman, dan Lumpur dengan membawa spanduk penolakan melakukan orasi di depan Gedung DPRD Gresik.
Mereka datang ke gedung rakyat itu, menolak beroperasinya kembali PT Gresik Jasa Tama (GJT) perusahaan bongkar muat batubara yang berlokasi di Jalan RE.Martadinata.
Sambil membawa atribut spanduk bertuliskan penolakan beroperasinya kembali GJT. Warga yang berunjuk rasa juga membawa kesenian asli Gresik yakni ‘Pencak Macan’.
Selain melakukan aksi unjuk rasa. Warga dari ketiga kelurahan itu juga diundang beraudensi di ruang paripurna DPRD Gresik. Dalam audensi itu, juga dihadiri Ketua DPRD H.Fandi Akhmad Yani (Gus Yani), Wakil Ketua Mujid Ridwan. Kemudian Kapolres AKBP Arief Fitrianto, Dandim 0817 Letkol Inf Taufik Ismail serta perwakilan warga.
Sewaktu beraudensi Gus Yani yang menyerapa aspirasi warga yang terdampak dengan beroperasinya GJT menyatakan warga tak keberatan ada pelabuhan asal bukan bongkar muat batubara.
“Sebelumkan kan sudah kesepakatan. Kok ini dilanggar lagi dan selalu bikin masalah,” ujarnya.
Hal senada juga dikemukakan oleh anggota Komisi IV DPRD Gresik. Mega Bagus Saputra. Menurutnya, permasalahan ini sudah lama seharusnya ada komunikasi dulu dengan warga. Jadi ada semacam solusi yang konkrit untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Harus ada komunikasi dulu dengan warga. Jangan sampai GJT tiba-tiba beroperasi lagi dengan membenturkan aparat dengan warga,” katanya.
Sementara, perwakilan warga Hesti (40) asal Kelurahan Kemuteran, Gresik menyatakan GJT sudah melanggar kesepakatan dengan warga. Prinsipnya warga tak mempersalahkan asal bukan bongkar muat batubara. Sebab, dampak dari itu sangat berbahaya utamanya polusi udara.
https://www.youtube.com/watch?v=onjG2zhyPuA
“Tuntutan kami tidak muluk-muluk udara bersih itu saja. Bukan sebaliknya malah beroperasi lagi bongkar muat batubara. Silahkan relokasi ke Pelabuhan JIIPE. Sebab, disana jauh dari pemukiman warga. Jika ini tetap dipaksakan akan ada gangguan terus dari warga,” tuturnya.
Menanggapi hal ini, Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto yang hadir dalam audensi itu mengatakan, soal permasalajan ini perlunya adanya komunikasi mencari solusi yang terbaik.
“Terus terang kami mendapatkan perintah mengamankan obyek vital nasional. Namun, kami tak mau dibenturkan dengan masyarakat,” ungkapnya.
Usai beraudensi selama dua jam. Ketua DPRD Gresik, Gus Yani akhirnya memutuskan menghentikan sementara operasional GJT terkait dengan bongkar muat batubara.
Mendengar hasil audensi itu, warga yang berorasi di DPRD Gresik. Membubarkan diri dengan tertib denga dikawal aparat dari Polres Gresik. (dny/ted)




Apa Reaksi Anda?

Komentar