Politik Pemerintahan

Bojonegoro Belum Siap Jadi Kota Inklusif, Jika…

Bojonegoro (beritajatim.com) – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Cabang Bojonegoro memberi solusi bagi pemerintah setempat jika akan menyiapkan fasilitas di Mal Pelayanan Publik (MPP) di Jalan Veteran.

Salah satunya yang paling ditekankan oleh Kopri Bojonegoro yakni ketersediaan fasilitas bagi perempuan dan anak. Sehingga Pemerintah Bojonegoro layak disebut sebagai daerah inklusif.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Kopri Bojonegoro, Lilis Apriliati menyikapi belum adanya kesiapan fasilitas di Mal Pelayanan Publik (MPP), khususnya di bagian pelayanan Dinas Pencatatan Sipil dan Kependudukan (Discapilduk).

Menurutnya, melihat kondisi fasilitas umum di Kabupaten Bojonegoro yang sebelumnya belum ramah perempuan, ditambah dengan kondisi Mal Pelayanan Publik yang sedemikian, sehingga semakin menyedihkan.

Saat ini, beberapa pelayanan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) belum sepenuhnya berfungsi. Jika dalam pembangunan kedepan tidak adanya ruang publik bagi kaum rentan, maka kata dia, Bojonegoro belum siap menjadi kota inklusif.

“Baru pengurusan identitas saja penduduk sudah sesusah itu, belum lagi membahayakan tindakan yang tidak ramah untuk perempuan apalagi bagi anak,” terangnya.

Diketahui, sebelumnya belum diimbangnya pengembangan secara infrastruktur di MPP membuat para pemohon mengeluh. Salah satunya pelayanan di bidang pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran maupun Kartu Identitas Anak (KIA).

Jenis pelayanan identitas tersebut ditempatkan di gedung belakang. Terlihat siang tadi sejumlah pemohon harus mengantre di depan pintu. Para pemohon harus berpanas-panasan karena tidak ada atap pelindung bagi pemohon yang sedang antre.

Salah seorang pemohon, Juminten (36) Warga Desa Ngablak, Kecamatan Dander, juga mengeluh tidakadanya ruang laktasi bagi ibu yang menyusui. “Seharusnya ada ruang yang layak untuk ibu yang meyusui dan anak,” ujarnya.

Juminten mengaku datang ke Mal Pelayanan Publik untuk mengambil KTP. Sejak pukul 07.00 WIB dia sudah berada di MP. Namun hingga sekitar pukul 11.30 WIB, dia belum mendapat pelayanan. Juminten membawa serta anaknya yang masih berumur 11 bulan, karena di rumah tidak ada yang menjaga anakny itu.

Namun, selama mengantre anaknya rewel. Cuaca yang sedang panas membuat Febianti sering merengek karena merasa gerah. Mau menyusui anaknya sendiri tidak ada ruang laktasi yang disediakan. Terpaksa, dia harus dibawah pohon sekitar gedung agar anaknya tidak kepanasan dan bisa menyusui. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar