Politik Pemerintahan

Birokrat di Bursa Pilwali Surabaya: Eri Millenials, Hendro di Jalan Sunyi

Surabaya (beritajatim.com) – Sosok dua birokrat yang memuncaki Faksi Birokrat di Bursa Pilwali Surabaya 2020, Kepala Bappeko Eri Cahyadi dan Sekkota Hendro Gunawan, memiliki pola kerja yang boleh bertolak belakang. Keduanya memiliki ciri khas masing-masing.

Direktur Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W. Oetomo, Kamis (22/8/2019), mengungkapkan jika kedua tokoh itu memiliki plus minus masing-masing terkait ciri khasnya dalam bekerja. Meskipun, tidak bisa dipungkiri mereka mendapatkan apresiasi luar biasa dari publik terkait kinerjanya.

“Mereka sama-sama mendapatkan penerimaan cukup baik ya terkait kinerjanya. Sama-sama dinilai berhasil selama menjabat ini,” ujar Mochtar.

“Kalau Eri, cenderung dinamis karena mungkin masih lebih muda. Sementara Pak Hendro, ini lebih ke bekerja dalam diam. Calm, cool, and confident kalau dia (Hendro). Boleh juga dibilang, Eri lebih millenials dan Pak Hendro bekerja di jalan sunyi,” tambahnya.

Apabila dikaitkan dengan Pilwali Surabaya, pola kerja masing-masing dipandang Mochtar memiliki plus minus tersendiri. “Eri dengan dinamisnya akan lebih cepat meraih popularitas. Tapi, kalau tidak diiringi konsep dan gagasan yang tepat malah bisa jadi bumerang. Bisa berujung mendapatkan cap over confident. Terlalu percaya diri,” jelasnya.

“Sementara, Pak Hendro, dengan pola calm, cool, and confidentnya akan lebih mudah meraih akseptabilitas atau penerimaan publik. Tapi ya itu tadi, di sisi lain akan agak susah mendongkrak popularitas,” pungkas Mochtar.

Sebelumnya, terkait peluang mendapatkan rekom partai di Pilwali Surabaya, Mochtar menilai keduanya masih berimbang.

Posisi Eri yang lekat dengan julukan anak didik Risma membuatnya dekat dengan PDIP. Ketua DPRD Surabaya periode 2019-2024, Armuji, pun melontarkan sinyal yang sama. Dalam satu kesempatan, Ia membocorkan jika nama Eri Cahyadi saat ini tengah menjadi bahasan hangat di DPP PDIP. ”Sudah ada beberapa nama lama. Tapi, yang baru ada dua. Awak dewe karo Eri,” katanya pada saat itu.

Sedangkan Hendro, pola kerjanya yang cenderung kalem ini disebut Mochtar memiliki nilai tawar sendiri. Bukan hanya bagi PDIP, melainkan juga banyak partai lain. Informasi beredar juga menyebut bahwa Hendro telah menjalin komunikasi denga sejumlah partai politik di Surabaya. [ifw/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar