Politik Pemerintahan

Berkursi Roda, Anggota DPRD Ini Rasakan Gedung Pemerintah Tak Ramah Difabel

Jember (beritajatim.com) – Agusta Jaka Purwana, Ketua Fraksi Pandekar DPRD Jember, Jawa Timur, hanya bisa menanti di beranda Pendapa Wahyawibawagraha, Senin (5/10/2020).

Dengan kondisi berkursi roda, ia tak bisa mengikuti acara ramah-tamah anggota DPRD dengan Pelaksana Tugas Bupati Jember Abdul Muqiet Arief di lantai dua.

Agusta, politisi Partai Demokrat, baru saja menjalani operasi leher tulang belakang dan sedang dalam tahap pemulihan. Operasi itu terpaksa membuatnya harus ditemani kursi roda selama dua bulan ke depan. Ini membuatnya kerepotan, karena gedung pemerintah, seperti kantor pemerintah daerah, pendapa, dan gedung DPRD, tidak dilengkapi fasilitas orang berkursi roda seperti dirinya.

“Padahal saya punya hak yang sama dengan yang sehat. Kebetulan karena saya sakit, saya harus pakai kursi roda. Tidak ada fasilitas untuk naik ke lantai dua. Di DPRD pun, saya pun berpikir, bagaimana caranya kalau ada rapat paripurna di lantai dua. Apalagi kadang ada rapat di lantai tiga. Saya mungkin akan lebih banyak beraktivitas di lantai satu,” kata Agusta.

Agusta menyebut gedung pemerintah belum ramah terhadap kaum difabel. “Kalau saya mungkin hanya dua bulan, lalu berjalan pakai alat. Yang saya pikirkan adalah teman-teman yang memiliki disabilitas selamanya dan tidak temporer. Pasti dia tidak bisa menggunakan gedung-gedung di lingkungan pemerintah kabupaten. Jadi Jember yang gembar-gembor peduli HAM (Hak Asasi Manusia) itu omong kosong,” katanya.

Kendati tak bisa naik ke lantai dua pendapa, Agusta seharusnya bisa menunggu di ruang tamu. Namun ternyata pintu utama menuju ruang tamu juga terkunci. Kondisi ini membuat David Handoko Seto, anggota Fraksi Nasional Demokrat, memprotes Pelaksana Tugas Bupati Abdul Muqiet Arief.

David mempertanyakan kinerja Bagian Umum yang bertanggung jawab terhadap perawatan dan pelayanan di pendapa. “Apa maunya ini Bagian Umum? Masa tidak kasihan melihat Pak Agusta. Ada apa di bawah sana kok (pintu utama) masih dikunci,” katanya.

Muqiet mengakui, kantor pemerintahan memang belum memiliki fasilitas yang mempermudah akses kaum difabel. Usai acara dia menemui Agusta yang menunggu di beranda pendapa. “Kabag Umum minta maaf tidak bisa datang,” katanya. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar