Politik Pemerintahan

Beredar, Video Warga Menangis dan Berpelukan Saat Keluar Karantina

Jember (beritajatim.com) – Sebuah klip video berdurasi 24 detik beredar di media sosial. Dalam video tersebut ditayangkan perempuan berjilbab yang berpelukan dengan sejumlah perempuan lainnya dan menangis.

Video tersebut diambil di Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang menjadi lokasi karantina penanganan Covid-19. Tidak diketahui kapan video itu diambil. Namun Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Gatot Triyono membenarkannya. “Benar, orang itu krasan (betah),” katanya.

Gatot tidak tahu identitas perempuan dalam video tersebut. Yang jelas, perempuan itu keluar dari karantina pada Rabu (29/4/2020). “Rabu kemarin yang keluar ada enam orang,” kata Gatot.

Total sudah 43 orang yang keluar dari karantina terhitung pada Kamis (30/4/2020). Jumlah penghuni karantina sendiri 383 orang dari total kapasitas 500 orang. Karantina ini dibuat untuk menampung warga Jember yang baru datang dari daerah lain yang masuk kategori zona merah Covid-19. Mereka menginap di sana 14 hari sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sebelumnya Gubernur Khofifah Indar Parawansa sempat meninjau karantina tersebut melalui konferensi video kemarin. Dia berjanji akan mengirimkan tambahan telur untuk lauk bagi warga yang dikarantina di JSG. “Sementara untuk menambah protein kami kirimkan 500 kg telur untuk warga yang sedang di observasi di Jember Sport Garden,” katanya.

Masalah makanan memang sempat menjadi isu di JSG. Setidaknya dua kali keluhan soal kualitas makanan di JSG muncul di media sosial. Siti Rodiyah, warga Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Wuluhan, yang dikarantina di sana setelah pulang dari Maladewa juga sempat menyatakan perlunya tambahan asupan sayuran.

Gatot mengatakan, salah satu penyebab diprotesnya kualitas makanan di karantina JSG adalah kesalahpahaman. Dalam kasus terakhir, jumlah penghuni karantina yang tidak berpuasa ternyata lebih banyak dibandingkan yang berpuasa. Padahal petugas karantina sudah menyiapkan nasi dan lauk untuk sahur. Alhasil, mereka mengonsumsi nasi untuk sahur tersebut.

Soal menu lauk, Gatot mengatakan, ada yang tak dimunculkan di media sosial. “Padahal lauknya ada goreng lele, ada telur dadar,” jelasnya. Namun pemerintah daerah tetap menampung masukan-masukan dari penghuni karantina untuk meningkatkan fasilitas pelayanan. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar