Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Berawal dari Pancasila di PBB

Beragam Komunitas Usulkan 30 September Sebagai Hari Perdamaian Dunia Abadi

Kediri (beritajatim.com) – Beragam komunitas yang menamakan diri ‘Komunitas Kediri Raya’ menggelar tasyakuran hari sejarah 30 September 1960. Pada hari itu Pancasila menggema di  Sidang Umum PBB melalui pidata yang disampaikan Bung Karno.

Oleh sebab itu, komunitas bersepakat lagi  mengusulkan momen Pancasila di PBB tersebut sebagai Hari Besar Nasional Perdamain Dunia Abadi. Kesepakatan ini diambil di situs rumah masa kecil Presiden pertama RI Persada Sukarno Desa Pojok Kecamatan Wates Kabupaten Kediri, Jumat malam (30/09/2022).

Turut hadir dan menjadi saksi dalam acara yang juga dalam rangkaian Doa Bersama Suksekan  KTTG-20 dan Pemilu Serentak 2024 ini perwakilan KPU dan Bawaslu Kabupaten Kediri, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) serta beberapa tokoh lintas agama.


“Acara pada malam ini ada empat hajat, pertama tasyakkuran Pancasila di PBB, kedua doa bersama sukses KTT G -20, doa bersama sukseskan Pemilu serentak 2024 serta tasyakuran Hari Rumi Dunia. Jadi tanggal  30 September 1207 hari lahir ulama tasawwuf yang telah ditetapkan sebagai tokoh dunia oleh Unesco. Sekalian malam ini kita tasyakuri,” ujar Kushartono dalam sambutannya mewakili panitia.

Doa dan tasyakuran  diisi dengan tembang mocopat, doa lintas agama dan santunan anak yatim/fakir miskin serta diskusi kebangsaan.  Sebagai modertator Ari Hakim  Kampung Inggris , nara sumber Wakil Ketua Lesbumi Jawa Timur Gus Barok dan Ketua Dep. Pendidikan DPP  PCTA  Indonesia, Kushartono.

Di penghujung acara, usai moderator menyimpulkan hasil diskusi, Juwaini  perwakilan dari  DK4  maju kedepan menawarkan kepada semua perwakilan yang hadir, apakah hasil diskusi tentang Pancasila di PBB bisa diusulkan sebagai hari besar nasional kepada pemeritah Jokowi.

“Saya bacakan dulu isi surat usulan kepada Bapak Presiden Joko Widodo, simak baik-baik. Apakah bisa disetujui apa tidak?,” ujar Juwaini tampak demokratis.

Pria yang juga pengurus Ibaji Kabuopaten  Kediri ini langsung membacakan. “Bapak Presiden RI yang mulia, bersama ini kami berbagai komunitas yang tergabung di Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno Rumah Masa Kecil Bung Karno di Kediri bersama Persaudaraan Cint Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan mengusulkan kepada pemerintah Republik Indonesia agar tanggal 30 September 1960 bisa ditetapkan menjadi hari besar nasional,” ucapnya membaca surat itu.

“Mengingat bahwa pada tanggal tersebut Pancasila telah diusulkan oleh Presiden Soekarno di dalam Sidang Umum PBB untuk dijadikan landasan perdamian dunia abadi, Dalam usulan pidato itu Bung Karno memakai judul To Build The Word A New – Membangun Dunia Baru,” katanya.

“Menurut kami saat ini adalah moment yang sangat tepat, seiring dengan persiapan KTT G20 di Bali November mendatang. Kami yakin, seyakin-yakinnya dengan menetapkan 30 September 1960 sebagai Hari Besar Pancasila di Dunia, spirit dan gema Pancasila akan semakin menguat. Hikmahnya dengan Pancasila Indonesia akan mampu menjadi imam perdamaian dunia,” lanjut Juwaini.

“Demikian permohonan ini kami sampaikan kurang lebihnya mohon maaf. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Kediri, 30 September 2022. Atas nama komunitas Kediri Raya,” tegas Cak Ju sapaan karib Juwaini.

Secara aklamasi semua pun menjawab setuju. Belum puas, Juwaini pun meminta yang setuju supaya mengangkat tangan. Dan hampir semuanya menganggkat tangan. Sementara Kushartono mewakili organisasi kebangsaan lintas agama PCTA Indonesia mengatakan perjuangan itu perlu proses.

“Insya Allah ini yang ketiga kali kita menyampaikan usulan agar peristiwa Pancasila di PBB bisa ditetapkan sebagai hari besar nasional. Nggak masalah kita harus sabar karena tidak mudah pemerintah  memutuskan hari besar nasional,” kata Kus.

Seperti usulan 17 Agustus 1945 Hari Kemerdekaan Bangsa dan 18 Agustus Hari Berdirinya NKRI yang baru-baru ini mendapatkan respon.  “Alhamdulillah setelah melalui proses panjang ahirnya pemerintah Pak Jokowi pun membalas bahkan memberikan apresiasi terhadap usulan 17 Agustus 1945 hari kemerdekaan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

“Dalam Surat No. 004.1/5963/polpum, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri. Jadi intiya kita harus sabar, terus berjuang dan berdoa dan tak boleh pupus harapan. Soal waktu adalah rahasia Allah. Kita yakin pemerintah selalu memberikan yang terbaik untuk rakyat dan kita semua,” pungkasnya. [nm/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar